Ilustrasi
Tidak semua yang ramai dibicarakan itu valid/benar. Membaca isi berita secara utuh, mengecek sumber, dan membandingkan dengan media lain seharusnya menjadi kebiasaan, bukan pengecualian.
Gen Z perlu lebih berani bersikap atau berpikir kritis, termasuk terhadap figur publik dan content creator. Popularitas tidak selalu sejalan dengan kebenaran. Banyak opini pribadi yang dikemas seolah-olah terlihat fakta. jika hal ini diterima mentah-mentah, maka hoaks akan terus menemukan ruang untuk berkembang.
Di sinilah logika dan nalar pada semua orang, terutama Gen-Z, harus lebih diutamakan daripada emosi dan rasa takut ketinggalan informasi.
Literasi digital juga tidak boleh dimaknai sebatas kemampuan untuk menggunakan teknologi saja. Literasi digital berarti memahami dampak dari informasi yang kita konsumsi, dan kita sebarluaskan.
Setiap unggahan memiliki konsekuensi, setiap berita yang yang dibagikan ikut membentuk cara pandang orang lain. Jadi Gen-Z perlu menyadari bahwa menjadi pengguna media sosial juga berarti memikul tanggung jawab sosial.
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk sikap ini. Namun, pada akhirnya keputusan tetap berada pada tangan individu. Tidak ada algoritma yang bisa sepenuhnya melindungi kita dari berita hoaks, jika kita tidak sendiri enggan berpikir kritis dan berpikir secara logika.
Mengantisipasi hoaks bukan soal menjadi paling pintar, tetapi soal mau berhenti sejenak dan bertanya, “apakah ini benar?”
Generasi Z disebut sebagai generasi masa depan. Namun masa depan ini tidak akan dibangun dari informasi yang keliru. Jika ingin menjadi generasi yang membawa perubahan, Gen-Z harus mulai dari yang paling mendasar, berpikir sebelum percaya dan berpikir sebelum membagikan. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk berhenti dan berpikir justru menjadi bentuk kecerdasan yang paling penting.
*Penulis adalah Mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






