Labuhan Kuning Bangkalan Bangkit Lewat Wisata Mangrove dan Energi Konservasi PHE WMO

Labuhan Kuning Bangkalan Bangkit Lewat Wisata Mangrove dan Energi Konservasi PHE WMO Andy Ermawati dan Kiki Rizki dari K3S Kalimantan dan Sulawesi, mengambil sampel daun mangrove yang digunakan sayur atau lalapan, saat melakukan kunjungan lapangan dan Lokakrya PPM 2025, di lokasi Wisata Mangrove Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Rabu (22/10/2025).

Sa’diyah kini meraup omzet Rp300-800 ribu per hari, bahkan mencapai Rp15-20 juta per bulan. Rumahnya pun disulap menjadi homestay bagi peneliti dan mahasiswa.

“Sekarang saya kerja dari jam tujuh pagi sampai empat sore. Tidak seberat dulu, tapi rezekinya malah lebih banyak,” ujarnya sembari tersenyum.

Hari ini, ia dan para pedagang di area wisata Labuhan Mangrove menatap laut yang bersih dan tenang. Di matanya terpantul cahaya jingga yang menembus celah mangrove, seolah menjadi simbol energi yang tak pernah padam.

“Sekarang laut ini bukan lagi tempat saya mengais nasib, tapi tempat saya bersyukur,” tuturnya lirih.

Labuhan Kuning telah menjadi bukti bahwa Energizing Indonesia bukan sekadar slogan, tapi napas kehidupan yang nyata. Energi itu mengalir dari akar mangrove hingga ombak, dari tangan perempuan tua hingga semangat anak muda, dari bumi Madura hingga ke seluruh Indonesia.

memberikan energi baru bagi kehidupan warga Labuhan. Bukan hanya pemberdayaan ekonomi, tapi juga pendidikan dan keberlanjutan lingkungan,” ucap Sahril.

Kolaborasi antara SKK Migas- dan KKKS Kalimantan dan Sulawesi bersama warga Labuhan menumbuhkan energi dari akar, Rabu (22/10/2025).

Pemerintah Desa Labuhan menetapkan wilayah ini sebagai Desa Wisata Mangrove melalui Perdes Nomor 45/433.408.12/VII/2022. Ekosistem laut, darat, dan udara menyatu, menjadikan kawasan ini ruang hidup bagi semua makhluk dan ruang belajar bagi manusia.

Peneliti dari ITS, Farid Kamal Marzuki, mengapresiasi inisiatif .

“Pertumbuhan terumbu karang sangat pesat. Tapi ke depan, perlu terumbu karang buatan dari bahan beton yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen (pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan korporasi) agar semangat Energizing Indonesia benar-benar menjadi energi bersama untuk masa depan.

“Menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan satu pihak. Kapasitas pengelola wisata juga harus ditingkatkan agar bisa melakukan monitoring mandiri,” pungkasnya. (uzi/mar)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Kilang Minyak Pertamina Terbakar, 5 Luka Berat, 15 Luka Ringan, Ini Suara Greepeace':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO