A. Faiz Yunus (kanan). Foto: dok pribadi
Perspektif Ulama Nusantara: Syaikh Nawawi al-Bantani
Pemikiran Imam al-Ghazali mendapat penguatan dari ulama Nusantara, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H), dalam Maraqi al-'Ubudiyyah. Beliau menegaskan pentingnya sikap tawadu' murid kepada gurunya:
وَيَنْبَغِي لِلطَّالِبِ أَنْ يَتَوَاضَعَ لِشَيْخِهِ، وَيُحْسِنَ الظَّنَّ بِهِ، وَلَا يَسْتَكْثِرَ خِدْمَتَهُ
(Maraqi al-‘Ubudiyyah, h. 11)
“Hendaknya seorang murid merendahkan diri di hadapan gurunya, berbaik sangka kepadanya, dan tidak merasa berat dalam melayaninya.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Islam, penghormatan murid kepada guru bukan sekadar ritual simbolis, melainkan bagian dari etika keilmuan. Karena itu, praktik santri berjalan ngesot, mencium tangan, atau menjaga sikap penuh hormat di hadapan kiai merupakan pengejawantahan nyata dari warisan keilmuan klasik Islam.
Kritik Modern dan Relevansi
Di tengah dunia modern yang serba rasional, tradisi ini menghadirkan keseimbangan: bahwa ilmu tidak cukup hanya dipelajari dengan otak, tetapi juga dengan hati yang tunduk, jernih, dan penuh hormat.
Kritik dari perspektif modern biasanya berpijak pada nilai egalitarianisme dan kebebasan individu. Gestur penghormatan fisik kepada guru dianggap merendahkan martabat manusia. Namun kritik semacam itu sering kali gagal melihat konteks epistemologis dan spiritual tradisi pesantren.
Bagi pesantren, adab lahiriah justru menjadi sarana batiniah untuk menghancurkan ego (nafs), mengikis kesombongan intelektual, dan membuka hati agar siap menerima cahaya ilmu. Dengan kata lain, penghormatan santri kepada kiai adalah pendidikan karakter yang menyatukan dimensi lahir dan batin.
Tradisi adab santri dalam pesantren bukanlah warisan feodal, melainkan bagian integral dari manhaj (metodologi) keilmuan Islam. Apa yang dilakukan santri dari mencium tangan hingga berjalan penuh hormat merupakan pengejawantahan nilai yang diajarkan para ulama klasik, mulai dari Imam al-Ghazali hingga Syaikh Nawawi al-Bantani.
Tradisi pesantren menempatkan adab sebagai kunci utama pembuka ilmu. Tawadhu' kepada guru, kesabaran dalam belajar, keikhlasan menerima, serta menjaga dzikir dan hati yang hadir semua itu adalah jalan agar cahaya ilmu benar-benar menancap dalam jiwa.
Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi hafalan yang kering. Tetapi dengan adab, ilmu akan menjadi cahaya yang menuntun jalan hidup, menghubungkan santri dengan para ulama, dan akhirnya membawa kepada ridha Allah.
Referensi
Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Kairo: Dār al-Ḥadīth, 2004. Juz 1, hlm. 85.
Nawawī al-Bantanī. Marāqī al-‘Ubūdiyyah. Beirut: Dār al-Fikr, tanpa tahun, hlm. 11.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




