Indonesia Memasuki Level Baru dalam Dunia Global

Indonesia Memasuki Level Baru dalam Dunia Global Khariri Makmun. Foto: bangsaonline

Frederic Wehrey dari Carnegie Endowment menilai, “Indonesia bisa jadi satu-satunya aktor yang diterima kedua kubu: blok pro-Iran dan blok pro-Saudi. Itu posisi langka.” Analisis ini masuk akal, karena biasanya negara yang terlalu dekat dengan Iran akan ditolak Saudi, begitu pula sebaliknya. justru hadir dengan wajah moderasi: tidak punya kepentingan militer di Timur Tengah, tapi punya legitimasi moral sebagai negara Muslim terbesar di dunia. Inilah yang membuat Jakarta bisa melampaui sekadar “jembatan,” menuju peran sebagai “broker” perdamaian yang credible.

Bagi Iran, kehad Indonesia bisa membantu menembus blokade narasi yang mereka hadapi dari Barat. Bagi Saudi, investasi besar-besaran ke bukan hanya urusan bisnis, tapi juga pesan geopolitik bahwa mereka siap merangkul mitra Muslim non-Barat untuk menopang visi transisi global. Dengan kata lain, dua kutub yang berseberangan menemukan relevansi yang sama: Jakarta. Dan ini menandai babak baru politik luar negeri yang lebih berani, lebih strategis, dan lebih vokal.

Di dalam negeri, simbolisme ini juga besar. Prabowo Subianto, yang dulu sering dilekatkan dengan citra nasionalis-militeristik, kini justru tampil sebagai figur yang mendorong diplomasi Islam moderat di panggung global. Perubahan ini tidak hanya memperluas wajah diplomasi, tapi juga mengirim pesan bahwa kekuatan militer bisa berdampingan dengan soft power diplomasi. Perpaduan inilah yang menjadikan Indonesia semakin diperhitungkan: punya hard power, tapi juga bisa memimpin dengan moral power.

Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah bisa menjadi pemain penting, tapi sejauh mana Jakarta berani memainkan peran barunya. Dunia sedang mencari mediator yang credible, dan punya semua modal: populasi Muslim terbesar, demokrasi yang relatif stabil, ekonomi yang tumbuh, serta tradisi politik luar negeri bebas aktif. Jika momentum ini dikelola dengan visi panjang, bisa bertransformasi dari sekadar penonton menjadi aktor utama di panggung Timur Tengah — bahkan mungkin global.

Tentu, tidak ada jalan mulus tanpa batu. memang dipuji sebagai calon kunci perdamaian, tapi realitasnya jauh lebih rumit. Politik Timur Tengah penuh dengan jebakan. Iran bisa berubah keras kapan saja. Saudi bisa berbalik arah kalau kepentingannya terganggu.

Pengamat geopolitik internasional, Vali Nasr, mengingatkan: “Siapa pun yang ingin jadi mediator di Timur Tengah harus siap menanggung risiko reputasi. Kalau gagal, kredibilitas bisa runtuh.”

Artinya, tidak boleh terjebak dalam euforia. Diplomasi ini harus dijalankan dengan kesabaran, perhitungan matang, dan strategi jangka panjang.

Dari kacamata ekonomi global, juga punya peluang emas. Energi hijau, yang jadi salah satu fokus deal dengan Saudi, bisa membuat masuk ke "supply chain" global baru. Dunia sedang transisi dari minyak ke energi bersih. Indonesia, dengan cadangan nikel terbesar, bisa jadi pusat "green energy".

Menurut Nouriel Roubini, ekonom dunia yang sering dijuluki “Dr. Doom”, “negara yang bisa memainkan transisi energi akan punya posisi geopolitik baru.” Dan sudah mengunci jalannya dengan Saudi.

Ditambah, sektor layanan haji-umrah bernilai miliaran dolar tiap tahun. Kerjasama kesehatan dan logistik yang ditandatangani akan memperkuat soft power di mata umat Islam.

Penutup

Dunia sedang masuk ke gelanggang multipolar, arena tinju raksasa di mana Amerika tidak lagi bisa berdiri sendirian di tengah ring. Cina datang dengan otot ekonomi, Rusia masih menggenggam senjata, sementara Timur Tengah terus melempar percikan api. Di tengah hiruk pikuk itu, ada kursi kosong di tepi panggung—dan dunia menoleh ke Jakarta: apakah kita mau duduk di sana atau sekadar jadi penonton yang bertepuk tangan?

Iran sudah berbisik, Saudi sudah merangkul. Keduanya ibarat dua musuh lama yang sama-sama melirik mediator netral untuk menyeimbangkan meja perundingan. Tapi mediator ini bukan negara adidaya, melainkan—sebuah demokrasi muslim terbesar yang punya modal moral sekaligus pasar raksasa.

Pertanyaannya apakah Jakarta berani keluar dari zona nyaman, mengambil risiko, dan melangkah ke panggung besar? Atau kita akan kembali pada pola lama: aman, normatif, tapi steril dari pengaruh global yang nyata?

Sejarah selalu kejam bagi mereka yang ragu. Dunia multipolar tidak menunggu, ia hanya menyambut siapa yang berani berdiri.

Hari ini, sorot lampu sedang mengarah ke Jakarta. Kalau kita menunduk, spotlight itu akan padam. Tapi kalau kita berdiri, inilah momen menulis bab baru: dari sekadar penonton, menjadi aktor utama di drama geopolitik global.

Penulis adalah pengamat politik Timur Tengah dan Direktur Moderation Corner, Jakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Ditjen Bea Cukai Ditegur Menkeu Terkait Oknum Penjual Pita Rokok':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO