Indonesia Memasuki Level Baru dalam Dunia Global

Indonesia Memasuki Level Baru dalam Dunia Global Khariri Makmun. Foto: bangsaonline

Oleh: Khariri Makmun

Ada momen langka dalam sejarah diplomasi global ketika sebuah negara tiba-tiba naik kelas, bukan karena ambisi agresif, tapi karena kepercayaan yang ditaruh kepadanya. Itulah yang sekarang dialami. Iran secara terbuka meminta ikut menetralkan propaganda Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah. Pada saat yang sama, menandatangani mega-deal Rp437 triliun dengan Arab Saudi. Dunia pun bertanya: apakah sedang dipersiapkan menjadi “game changer” baru dalam percaturan Timur Tengah?

Tanggal 2 Juli 2025 bisa jadi akan dikenang sebagai tonggak baru diplomasi. Presiden Prabowo Subianto bertemu langsung dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), menghasilkan kesepakatan investasi raksasa. Dari energi hijau, bahan bakar penerbangan, hingga layanan kesehatan untuk haji dan umrah, semuanya dikunci melalui pembentukan “Supreme Coordination Council”, sebuah Dewan Tinggi Bilateral yang levelnya setara kemitraan strategis utama.

Di tengah guncangan geopolitik global — Iran yang terhimpit sanksi, Israel makin agresif, dan Barat terus memperketat narasi — tiba-tiba muncul sebagai opsi alternatif: netral tapi vokal, demokratis tapi bernapas Islam. Sebuah posisi yang jarang dimiliki negara lain.

Kenapa Iran tiba-tiba menyebut sebagai aktor penting? Jawabannya sederhana: perang hari ini tidak lagi semata-mata ditentukan di medan tempur, tapi juga di arena opini publik. Menurut pengamat geopolitik Universitas, Prof. Hikmahanto Juwana, Indonesia punya dua modal yang tidak bisa diremehkan: legitimasi moral sebagai negara muslim terbesar di dunia, dan kredibilitas sebagai demokrasi. Kombinasi ini unik, sesuatu yang tidak dimiliki oleh Iran, Arab Saudi, apalagi Mesir yang sering terjebak pada kepentingan internal dan rezim politik otoriter.

Iran sadar betul bahwa narasi mereka tentang Palestina atau perlawanan terhadap Israel kerap dianggap bias. Selama ini, suara Iran diidentikkan dengan kepentingan ideologis dan persaingan sektarian di kawasan. Tapi lain ceritanya jika yang bicara. Dunia lebih mau mendengar, bahkan pihak Barat sekalipun cenderung menanggapi dengan tenang. Di sinilah yang disebut oleh Lina Khatib dari Chatham House sebagai "moral leverage"—kekuatan moral yang melampaui kekuatan militer.

tidak datang dengan retorika perang atau kepentingan blok tertentu. membawa suara mayoritas umat Islam dunia yang hidup dalam kerangka demokrasi, pluralisme, dan konsensus. Ketika Jakarta bersuara, ia tidak mewakili satu mazhab atau sekte, tapi mewakili keragaman. Itulah yang membuat posisi Indonesia unik: mampu bicara dengan semua pihak tanpa menimbulkan kecurigaan berlebihan.

Lebih jauh lagi, ketika propaganda Barat mengunci Iran lewat framing media global, punya ruang untuk hadir sebagai jembatan. Netralitas aktif bukan sekadar jargon era Soekarno yang lahir di Bandung 1955, melainkan sebuah strategi yang relevan lagi hari ini. Dunia multipolar yang penuh dengan rivalitas blok justru membutuhkan aktor semacam, yang tidak punya kepentingan ekspansionis tapi punya kepentingan besar terhadap stabilitas global.

Dengan demikian, permintaan Iran agar ikut dalam “perang opini” melawan propaganda Barat bukan hal aneh. Itu logis. Justru ini menegaskan bahwa sedang memasuki level baru dalam diplomasi global. Pertanyaannya kini: apakah Indonesia siap mengelola “moral leverage” ini menjadi kekuatan strategis nyata? Atau sekadar berhenti di simbol tanpa arah yang jelas?

Deal Rp437 Triliun dengan Arab Saudi

Mega-deal dengan Saudi jelas bukan sekadar hitungan uang. Nilainya memang fantastis—Rp437 triliun—tapi dampaknya jauh lebih dalam. Menurut analis ekonomi energi dari ISEAS Singapura, Nurliana Darsono, langkah Saudi ini adalah strategi pergeseran orientasi. Mereka tidak bisa selamanya bergantung pada minyak mentah, sementara "Saudi Vision 2030" menuntut diversifikasi besar-besaran. Untuk itu, Riyadh butuh mitra muslim besar yang demokratis, punya legitimasi global, dan relatif stabil. masuk sebagai kandidat ideal: pasar besar, demokrasi yang berjalan, dan citra internasional yang kuat.

Arab Saudi dengan kesepakatan ini juga ingin mengirimkan sinyal geopolitik. Mereka tidak lagi sekadar menatap ke Barat, melainkan merangkul Asia dengan lebih serius. Indonesia muncul sebagai pintu masuk strategis, bukan hanya karena jumlah penduduk muslimnya, tapi juga karena statusnya sebagai kekuatan menengah yang dipercaya dunia. Dalam konteks ini, kesepakatan-Saudi bukan hanya kerja sama ekonomi, melainkan juga pesan politik: Riyadh siap bermain di panggung multipolar dengan mitra-mitra baru.

Ekonom senior dari INDEF, Bhima Yudhistira, menekankan dimensi lain dari kesepakatan ini. Ia menyebutnya sebagai “modal diplomasi ekonomi” yang jarang dimiliki. Menurutnya, investasi sebesar itu jangan dilihat sekadar sebagai angka, tapi sebagai leverage politik global. Jika dikelola dengan benar, deal ini bisa mengubah posisi dari sekadar penerima investasi menjadi pemain yang punya daya tawar. Artinya, modal ekonomi bisa diterjemahkan menjadi modal diplomasi, sesuatu yang amat penting di era kompetisi geopolitik saat ini.

Lebih dari itu, mega-deal ini memperlihatkan peluang untuk keluar dari jebakan hubungan yang timpang. Selama ini, kerjasama dengan negara besar kerap menempatkan sebagai pihak yang pasif. Kali ini berbeda: ada ruang untuk membangun relasi lebih setara. Saudi membutuhkan sama besarnya dengan membutuhkan Saudi. Itu artinya, bargaining position meningkat, asal tidak disia-siakan dengan manajemen yang lemah atau kebijakan yang plin-plan.

Dengan kata lain, kesepakatan Rp437 triliun ini adalah momentum. Momentum untuk membuktikan bahwa Indonesia bukan sekadar pasar, bukan hanya “penerima” modal, tapi juga penggerak yang mampu mengarahkan kerjasama pada visi strategis jangka panjang. Pertanyaannya sekarang: apakah bisa mengubah peluang ini menjadi pijakan baru dalam percaturan global? Atau akan berhenti di seremoni angka besar tanpa efek nyata bagi kepentingan bangsa?

Simbolisme Politik Global

Di titik ini, dunia mulai membaca tanda-tanda arah baru politik luar negeri. Iran menggandeng Jakarta untuk perang narasi melawan hegemoni Barat dan Israel, sementara Arab Saudi membuka pintu kemitraan strategis melalui mega-investasi Rp437 triliun. Dua kekuatan besar Timur Tengah yang biasanya saling berseberangan justru sama-sama menaruh harapan pada Indonesia. Ini bukan sekadar kebetulan, tapi sinyal kuat bahwa Jakarta dipandang punya posisi unik: netral, demokratis, dan bernafas Islam.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Ditjen Bea Cukai Ditegur Menkeu Terkait Oknum Penjual Pita Rokok':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO