Ketua DPC HKTI Kabupaten Probolinggo, Agus Salehuddin, saat meninjau tanaman di Kecamatan Gading. Foto: ANDI SIRAJUDIN/BANGSAONLINE
“Tanaman tembakau saya menguning dan kerdil. Terpaksa saya panen dini, kalau tidak dipanen daunnya akan kering. Sudah bisa ditebak, pasti rugi jika tak dipanen, mas,” akunya.
Meski lahan telah diolah dengan sistem juring seperti bawang merah dan disemprot fungisida, hasil panen tetap tidak optimal karena hujan terus turun.
“Karakter tembakau itu tumbuh bagus jika lahan kering. Kami sudah semprot, tanah sudah digemburkan, tapi hasil tetap tidak baik akibat cuaca hujan,” kata Abdul.
Harga tembakau rajang ikut terdampak. Salah satu petani dari Desa Kertosono, Abdul Halim, mencatat tembakau rajangannya hanya laku Rp38-43 ribu per kg. Padahal, pada tahun lalu harga petikan pertama mencapai Rp50 ribu dan bisa tembus hingga Rp75 ribu untuk petikan daun atas.
“Harga tembakau itu bervariasi, tergantung petikannya. Ini baru daun bawah. Nanti daun ke atasnya akan lebih mahal. Tahun ini kualitas menurun dan kami para petani sudah ikhlas dan bersyukur, yang penting sehat dan selamat,” paparnya. (ndi/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






