Uniska bersama Dinas Perikanan Kabupaten Kediri, saat mendeklarasikan SPR atau Sekolah Pemberdayaan Rakyat. Foto: Ist
Menurut dia, kegiatan ini dilakukan oleh tenaga ahli dan mahasiswa Uniska untuk memastikan kurikulum SPR tersampaikan dan dapat terserap oleh komunitas pembudidaya ikan. Di akhir kegiatan pendampingan akan dilaksanakan evaluasi dan ujian bagi komunitas pembudidaya ikan.
"Bagi komunitas yang dinyatakan lulus akan diwisuda dan tergabung dalam organisasi yang lebih luas, yaitu SASPRI, Solidaritas Alumni SPR Indonesia yang menghimpun alumni SPR seluruh Indonesia," katanya.
Sementara itu, Muladno sebagai penggagas SPR dan Guru Besar IPB menekankan pentingnya sinergi antara ilmu dan pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat.
“Orang yang punya ilmu harus dikawinkan dengan orang yang punya pengalaman. Dosen menjadi pintar mengelola, pembudidaya menjadi paham secara teori,” tuturnya.
Menurut dia, ketahanan pangan hanya bisa terwujud jika empat elemen utama terlibat secara aktif: pemerintah sebagai pemegang regulasi, perguruan tinggi sebagai pusat teknologi, pengusaha sebagai penyokong dana dan pasar, serta komunitas pembudidaya sebagai pelaku lapangan.
Muladno juga memperkenalkan rencana menjadikan lokasi SPR sebagai Kawasan Riset dan Inovasi Teknologi (Kawasan RISET), tempat pengembangan gagasan, promosi digital, dan pemasaran produk ikan yang lebih menarik.
Ia pun menyampaikan pesan penting kepada peserta, “Jangan merasa bisa, jangan merasa hebat, tapi hebatlah merasa. Lebih baik merasa bodoh karena itu membuka ruang belajar. Ilmu tidak pernah berhenti.”
Kegiatan ditutup dengan ajakan kolaboratif, selama 6 bulan ke depan para peserta akan didampingi mahasiswa Uniska Kediri dan diharapkan aktif membangun organisasi pembudidaya yang kuat, adaptif, dan siap bersaing di era digital.
Rektor Uniska Kediri, Bambang Yulianto, menyatakan SPR menjadi bagian penting dari kontribusi universitas dalam pendidikan berbasis masyarakat.
“SPR penting bagi Uniska karena kita unggul di bidang peternakan, perikanan, dan agribisnis. Saat ini kami sedang menyiapkan Agro Techno Park sebagai ruang mahasiswa mengembangkan potensi dan kualitasnya,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa program ini sejalan dengan komitmen Uniska menjaga excellent in quality dan penjaminan mutu pendidikan secara ketat.
“SPR adalah ujung tombak pemberdayaan masyarakat. Kehadiran para peserta hari ini sangat berarti, tidak hanya bagi masyarakat tapi juga untuk penguatan posisi UNISKA sebagai kampus berdampak," paparnya. (uji/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




