KH Muhammad Yusuf Hasyim. Foto: Dok. Pesantren Tebuireng
Pada agresi militer II Belanda (19 Desember 1948-5 Januari 1949), tulis Prof Usep, wilayah kekuasan van Mook sudah menyebar dari Gresik sampai selatan Mojoagung, sebuah wilayah yang berbatasan dengan Jombang. Ini berarti agresi militer Belanda kian meluas.
Tugas Pak Ud kedua, tutur Prof Usep, adalah merebut kembali beberapa daerah Jawa Timur yang sudah dikuasi tentara Belanda.
“Seperti Perning (perbatasan Sidoarjo dan Mojokerto), Krian, Sidoarjo, dan Mojokerto, yang saat itu sudah masuk ke dalam garis van Mook,” ujar Prof Usep.
Dua tugas berat itu dilaksanakan Kiai Yusuf Hasyim dengan cepat. Bahkan Kiai Yusuf Hasyim semakin berani.
“Kiai Muhammad Yusuf Hasyim berani melibatkan dirinya dalam perang terbuka,” kata Prof Usep sembari mengungkap bahwa saat itu Kiai Yusuf Hasyim berusia 19 tahun 7 bulan hingga usia 20 tahun.
Pada usia itu juga Kiai Yusuf Hasyim melancarkan aksi dramatis yang sangat berani. Ia bersama teman-temannya, Laskar Hizbullah, melakukan aksi penculikan atau penyergapan terhadap mata-mata Belanda di sebuah rumah gelap di kawasan Cukir.
“Kiai Yusuf Hasyim menyalakan korek api. Namun, tanpa ia duga ada pasukan tentara Belanda di dalam rumah itu sambil mengacungkan senapan ke arah KH M Yusuf Hasyim,” kata Prof Usep.
Kiai Yusuf Hasyim pun kaget. “Dengan cepat, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim melompat lewat pintu jendela. Suara yang didengar oleh Kiai Muhammad Yusuf Hasyim saat itu adalah suara tembakan dari pasukan tentara Belanda. Kemudian Kiai Muhammad Yusuf Hasyim pingsan. Ketika dia bangun, dia sudah dikelilingi oleh teman-teman seperjuangannya,” kata Prof Usep sembari mengatakan bahwa saat bangun Kiai Muhammad Yusuf Hasyim sudah berada di sebuah rumah.
Menurut Prof Usep, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim menamakan perang yang ia jalankan itu sebagai “perang gerilya”. Yaitu perang dengan taktik sembunyi-sembunyi, serangan mendadak atau penyergapan, dan bergerak dalam unit kecil.
Kiai Muhammad Yusuf Hasyim, tutur Prof Usep, mengatakan: “Alhamdulillah, perang gerilya itu menang, walau kita banyak korban, maklum senjata tak seimbang”. (M.Mas’ud Adnan/bersambung).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




