Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Istri si teman tersebut hamil tua dan sudah waktunya melahirkan. Kemudian dihadirkan bidan di rumahnya untuk mengurus persalinan, seperti apa yang biasa dilakukan wong kampung setempat. Sampai hari berikutnya, bayi tidak kunjung lahir, hingga membuat bidan dan semua gelisah.
Karena sudah sekian hari dan istri terus menangis kesakitan, suaminya terpaksa meminta tolong temannya yang kiai, yang ahli perdukunan tersebut untuk datang ke rumah persalinan. Oleh kiai dukun tadi, semua yang hadir diminta membaca ayat-ayat tertentu. Dengan izin Allah SWT, brol, sang bayi lahir dengan selamat.
Lelaki itu berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada kiai dukun tersebut. Dan pada saat santai, sang suami bertanya kepada kiai dukun tersebut tentang apa yang terjadi dan menimpa istrinya. Kiai menjawab: “percuma memberi tahu kamu, pasti tidak percaya dan bantah”.
Setelah berjanji mau mendengarkan, baru sang kiai dukun berkata: “Begitu saya masuk ruangan, di mana istrimu terlentang hendak melahirkan, saya melihat ada tumit remang dan serem membuntu mulut vagina istrimu. Saya pandangi ke atas dan ternyata itu tumit jin jahat. Maka, saya meminta orang-orang yang ada membantu saya mengusirnya. Dan alhamdulillah”.
Jadi, dokter, bidan, dan dukun bayi itu sekadar membantu dan melancarkan proses persalinan saja. Lha yang ndokteri persalinan ibu Hawwa’ dan wanita-wanita kuno dulu siapa? Lha, yang membidani kelahiran tikus, monyet, kambing, gajah, siapa? Dialah Allah SWT.
Dalam ayat kaji ini, ketika membahasakan persalinan atau kelahiran anak manusia, Tuhan menggunakan dlamir ta’dhim, Diri-Nya sendiri yang ulasannya seperti baru lalu. Tetapi ketika membahasakan perkembangan, perjalanan menuju hidup ke depan digunakan dlamir khitab, antum, kum, “Litablughu asyuddakum”. Kalian tumbuh dewasa, dengan antaran huruf ‘athaf “Tsumm”, kemudian. Why?
Itu artinya, bahwa kehidupan kita ini murni kehendak Tuhan, titik. Kita punya kesempatan hidup di dunia ini murni sebagai anugerah dari-Nya. Bahkan lahir sudah dengan kelengkapan internal, seperti sempurnanya anggota tubuh kita, maupun eksternal, seperti fasilitas hidup berupa rezeki, materi, papan, pangan, dan sandang.
Ini sekadar barang mentah dan piranti belaka, hal mana kita-lah yang seharusnya menanaj dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Dalam menuju ke hari tua, ini terserah kita. Mau baik-baik atau sembarangan. Ini mentukan kesehatan kita sendiri, menentukan usia kita sendiri. Mau berumur panjang atau mati di tengah jalan.
Makanya, dlamirnya diganti mukhatab, “litablughu”, sebab ketentuannya ada di tangan kita sendiri. Karena kehidupan itu berproses, bertahap, dan butuh waktu. Maka wajar Tuhan memakai huruf ‘athaf, kata sambung “tsumm”.
Ada yang mati tua, bahkan hingga tunuk-tunuk dan hidup di kursi roda dan ada yang mati muda. Semua itu adalah takdir dan terkait dengan tangan manusia itu sendiri. Penulis memahami takdir itu begini:
Qaddara – yuqaddiru – taqdira. Artinya kira-kira, perkiraan, atau kisaran. Si Utsman ditakdir Tuhan berumur antara: 60 tahun sampai 90 tahun. Sebaik apapun Utsman menjaga kesehatannya, maka tidak akan bisa melampaui umur 90 tahun. Sebaliknya, seburuk apapun dia merawat kesehatannya, maka tidak akan mati sebelum usia 60 tahun. Allah a’lam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




