Dedi Mulyadi. Foto: CNBC/Tri Susilo/CNN Indonesia
BANDUNG, BANGSAONLINE.com – Popularitas Dedi Mulyadi memang tinggi. Terutama sejak ia terpilih sebagai gubernur Jawa Barat. Ia sangat rajin membuat konten di media sosial. Video-videonya viral. Bahkan Dedi Mulyadi membranding dirinya atau namanya menjadi KDM (Kang Dedi Mulyadi).
Sedemikian rajinnya KDM membuat konten sampai ia dijuluki sebagai “gubernur konten” oleh Rudy Mas’ud, gubernur Kalimantan Timur (Kaltim). Tampaknya KDM risih dengan sindiran gubernur Kaltim itu.
BACA JUGA:
- Prof Kiai Asep: Dedi Mulyadi Tak Cerdas, Khofifah Pakai Referensi Keilmuan
- Didemo Ribuan Pekerja Pariwisata, Dedi Mulyadi: Nanti yang Pariwisata Orang Luar Negeri, Punya Uang
- Survei kembali Sebut Kepuasan 100 Hari Kinerja Gubernur Khofifah 76,3 Persen, Benarkah?
- Kinerja Gubernur Khofifah Tetap Mendapat Apresiasi Tinggi Tanpa Ngonten
Ia pun membela diri. Menurut KDM, kebiasaan “ngonten” itu justru menghasilkan efisiensi sangat signifikan bagi Pemprov Jabar. Anggaran kerjasama dengan media konvensional yang semula Rp 50 miliar, kini setelah memakai akun media sosial Pemprov Jabar hanya mengeluarkan anggaran Rp 3 miliar.
Tapi Ketua Dewan Pakar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Dhiman Abror Djuraid mengeritik cara berpikir KDM itu menyesatkan.
Menurut dia, dari perspektif efisiensi logika yang dipakai KDM masuk akal. Namun dari perspektif komunikasi politik dan jurnalistik, logika Dedi Mulyadi itu menyesatkan.
Menurut Abror, kita asumsikan bahwa anggaran Rp 50 miliar itu mengalir ke puluhan media konvensional di wilayah Jawa Barat. Tapi anggaran Rp 3 miliar hanya mengalir ke tim media dan konsultan komunikasi KDM.
Kata Abror, KDM lupa bahwa media sosial tidak sama dengan media konvensional. Ketika ia memberikan keterangan pers kepada media konvensional, pernyataan itu akan diolah menjadi konten jurnalistik.
Dalam tradisi jurnalistik professional, sebuah berita harus memenuhi syarat “keseimbangan”, cover both side, harus ada konfirmasi dan verifikasi. Sehingga berita yang muncul di media konvensional bisa dipertanggungjawabkan secara profesional. Bahkan bisa dipertanggungjawabkan secara etika jurnalistik.
Sebaliknya, konten yang diunggah Dedi Mulyadi di media sosial tidak melalui mekanisme disiplin jurnalistik. Karena itu konten yang diunggah cenderung one-side, ‘satu sisi’, tidak ada kofirmasi dan tidak ada verifikasi.
Masih menurut Abror, Dedi Mulyadi sebagai pemilik akun bebas mengunggah apa saja sesuai dengan keinginannya. Tidak ada konten yang berisi kritik terhadap kebijakan Dedi Mulyadi.
"Kalau toh ada, konten dibuat “terukur”," tulis Abror di Disway edisi Sabtu, 3 Mei 2025.
Contoh terbaru tentang vasektomi yang oleh Dedi Mulyadi akan dijadikan syarat untuk penerima bantuan sosial warga Jabar. Ide itu dianggap terobosan. Padahal pemandulan laki-laki secara permanen itu menimbulkan kontroversi tinggi.
Dalam persepektif agama, vasektomi atau pemandulan laki-laki secara permanen sangat dilarang. Kecuali ada faktor tertentu. (Silakan baca di bangsaonline.com tulisan berjudul: Usul Kontroversial Gubernur Jabar Dedi Mulyadi: Vasektomi Jadi Syarat Terima Bansos, MUI: Haram!)
Karena itu baik MUI Pusat maupun MUI Jawa Barat langsung merespons gagasan KDM. MUI Pusat dan Jawa Barat memberi fatwa: haram !
Bahkan bukan hanya agama yang melarang vasektomi tanpa sebab, tapi juga bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM).
Seorang netizen yang kritis (atau nyinyir) meminta Dedi Mulyadi memberikan contoh lebih dulu sebelum main perintah.
Menurut Abror, perdebatan pro-kontra semacam itu tak akan muncul di akun medsos KDM. Tidak ada perdebatan di ruang publik terhadap gagasan KDM itu.
Padahal ruang publik yang senyap akan menjadi indikasi bahwa demokrasi menjadi senyap dan bahkan mati. Tidak ada dialog publik. Yang ada adalah komando top-down.
Kontroversi lain Dedi Mulyadi adalah terkait Aura Cinta. Seorang remaja miskin yang rumah tuanya di Cikarang Bekasi Jawa Barat digusur karena menempati bantaran sungai milik Pemprov Jawa Barat.
Sebagai korban penggusuran tentu Aura Cinta berani mengeritik KDM. Ia membuat konten (video) di atas reruntuhan rumahnya yang sudah rata dengan tanah.
Ia menyebut KDM sebagai gubernur yang sedang pencitraan dan ingin tampil beda dengan gubernur-gubernur sebelumnya. Tapi Aura Cinta justru dibully oleh para pendukung KDM. Ia dianggap anak miskin tak punya adab.
Dedi Mulyadi sempat mengundang Aura Cinta berikut orang tuannya dan warga yang rumahnya menjadi korban penggusuran. Tapi yang menjadi viral dalam pertemuan itu bukan soal penggusuran tapi justru perdebatan Aura Cinta dan KDM.






