Dahlan Iskan. Foto: dok.pribadi
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Hari ini, Selasa (15/4/2025), sejumlah massa menggeruduk kampus Universitas Gajah Mada (UGM). Mereka menuntut UGM jujur soal ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang diduga palsu.
Nah, kebetulan Dahlan Iskan, tokoh pers nasional pagi ini, Selasa (15/4/2025) juga menurunkan tulisannya berjudul Ijazah Penting. Mantan Menteri BUMN itu mengawali tulisannya dengan pertanyaan: Apa untungnya terus mempersoalkan asli tidaknya ijazah S-1 Jokowi?
BACA JUGA:
“Toh ia sudah bukan presiden lagi?,” tulis wartawan senior itu. ”Apakah pula manfaatnya mempersoalkan tidak terwujudnya mobil Esemka Jokowi?
Toh kalau pun terwujud apakah Anda mau membelinya?,” tambah Dahlan Iskan. Menurut Dahlan, Anda sudah tahu: Jokowi punya ijazah sarjana Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Dulu pernah diributkan asli tidaknya. Lalu lama reda. Belakangan ramai lagi di medsos. Sampai ada yang bilang 11.000 persen ijazah itu palsu.
"Di tahun ijazah itu diterbitkan UGM, belum ada jenis huruf seperti itu," kata yang meributkan tulis Dahlan Iskan lagi. Presiden Jokowi, seperti biasa, tidak terlalu menanggapinya. Ia seperti sangat pede. Apalagi tidak ada yang secara resmi menggugat ke pengadilan.
Mungkin karena tidak ada yang merasa punya legal standing untuk menggugat. Kalau pun digugat, yang mungkin lebih menghadapi kerepotan adalah UGM. Bukan Jokowi. Misalnya kalau penggugatnya menggunakan UU keterbukaan informasi publik. UGM harus menjelaskan semuanya.
Nah, kali ini UGM sedang digeruduk massa. Tapi tetap saja tidak ada manfaatnya bagi publik. Kalau pun ijazah itu ternyata palsu, toh tidak bisa dipakai untuk menurunkan Jokowi dari jabatan presiden.
Ia sudah selesai menjabat presiden dua periode. Paling hanya akan jadi bukti tambahan bahwa universitas kita tergolong paling tidak jujur di dunia. Pun soal mobil Esemka.
Apa manfaatnya untuk digugat ke pengadilan. Paling hanya memuaskan emosi. ”Memang, bagi yang anti-Jokowi tidak terwujudnya mobil Esemka itu bikin geregetan,” tulis Dahlan.
”Mobil Esemkalah salah satu isu yang membuat nama Jokowi melambung sampai langit. Jokowi menjadi sangat populer. Juga sangat dicintai,” lanjut Dahlan Iskan.
Menurut Dahlan, Jokowi meluncurkan mobil Esemka itu di saat sentimen cinta produksi nasional jadi mimpi banyak orang. Dengan mobil Esemka, Jokowi seperti menohok kita: baru ia yang bisa memelopori terwujudnya mobil nasional. Dengan sangat mudahnya.
Ternyata tidak sulit. Bisa dibuat hanya oleh anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
”Jokowi lantas mengendarai mobil itu dari Solo –waktu itu ia menjabat wali kota Solo– ke Jakarta. Itu menjadi bahan berita yang tidak henti-hentinya. Jokowi jadi pahlawan besar lahirnya mobil nasional,” tulis Dahlan Iskan.
Tentu bukan salah Jokowi. Ia cerdik. Ia berhasil membius publik dengan isu mobil Esemka. Begitu terbiusnya publik sampai lupa bahwa mobil Esemka tersebut sebenarnya hanya rakitan dari suku cadang buatan Tiongkok yang dibeli oleh Kemendikbud untuk pelajaran praktik di SMK di Solo.
Mungkin Jokowi juga bukan ahli bius. Timnyalah yang hebat. Atau dua-duanya. Atau jangan-jangan justru publik yang sudah fly duluan pun sebelum dibius. Dengan gambaran seperti itu jelaslah tidak akan ada produksi masal mobil Esemka.
Kalau toh dipaksa dicoba diproduksi secara masal, apakah ada yang membelinya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




