Salah satu ODGJ saat membuat tasbih kecil. (Ist).
Di sisi lain, salah satu tantangan utama adalah sulitnya mengumpulkan peserta, karena kondisi mereka yang masih dalam tahap pemulihan. Selain itu, masalah transportasi juga menjadi kendala, terutama bagi peserta yang tinggal jauh. Untuk mengatasinya, relawan komunitas Sambango memfasilitasi penjemputan bagi peserta tersebut.
Sementara itu, ketua komunitas Sambango, Pipit Puji Rahayu, menjelaskan bahwa program ini bertujuan mengurangi stigma dan meningkatkan kemandirian eks-ODGJ melalui keterampilan ekonomi.
“Respon peserta sangat baik, meskipun ada tantangan seperti penglihatan salah satu peserta yang kurang baik, sehingga perlu pendampingan lebih dalam pelatihan. Kami juga bekerja sama dengan Bu Ervina (pengrajin handikraf) untuk pemasaran hasil karya mereka,” katanya.
Menariknya program pelatihan ini didanai secara swadaya oleh para anggota komunitas Sambango yang jumlahnya ±40 orang. Namun ke depan, tidak menutup kemungkinan Sambango akan berdiri menjadi sebuah yayasan agar dapat terus berkembang dengan cakupan yang lebih luas.
"Pada 2025 ini, targetnya adalah memperluas cakupan pelatihan dan membantu eks-ODGJ meningkatkan ekonomi keluarga,"tutup Pipit.
Sebagai informasi, berdasarkan data Dinas Sosial jumlah ODGJ di Kota Kediri tahun 2024 sebanyak 726 orang, sebagian besar dalam pengawasan keluarga. Dinas sosial terus memantau pengobatan rutin, termasuk suntik KB bagi pasien perempuan yang berisiko. Hal ini dilakukan guna mencegah permasalahan sosial lebih lanjut. (uji).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




