Budayawan Asal Kota Batu Kuak Filosofi Tumpeng, Ternyata Ada 47 Jenis di Tanah Jawa

Budayawan Asal Kota Batu Kuak Filosofi Tumpeng, Ternyata Ada 47 Jenis di Tanah Jawa Foto: Sulthon/BANGSAONLINE.com

Selain itu, warna nasi yang didominasi oleh warna kuning dan putih, kedunya punya makna yang berbeda pula. Warna putih pada nasi melambangkan kesucian, sedangkan warna kuning lebih pada kekayaan dan moral yang luhur.

Tidak ketinggalan juga dengan filosofi lauk pauk yang ada dalam sajian seperti ikan asin yang menggambarkan kebiasaan gotong royong, telur rebus yang bermakna kebulatan tekad, serta daging ayam yang menjadi simbol patuh terhadap Sang Pencipta.

Diungkapkan, jenis awalnya hanya 13 jenis dan digunakan untuk berbagai kegiatan persembahan. Saat ini, jenis berkembang dan terdapat sekitar 47 jenis di tanah Jawa.

Jenis terbaru yang masih asing di telinga yakni asrep-asrepan, tutut, among-among, duplak, robyong, sambal gepeng, pucuk mawa endog, pungkur, punar, sanggabuwana, kendhit, megana, tumbuk ageng, blawong, sewu, urub ing damar, ropoh, alus, kapuranta, manca warna, dan sembur.

Kendati jumlahnya banyak, namun ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yakni jumlah jenis lauk yang harus ganjil karena hal itu mengandung makna khusus, dimana nenek moyang kita memercayai bahwa angka yang ganjil itu memiliki makna yang positif.

Dirujuk dari sejarahnya, lanjut Romo Miswanto, sajian sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa tradisi menyajikan nasi tidak terlepas dari jejak nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun temurun. Menariknya, tradisi ini tidak lekang oleh waktu, alias masih tetap dilakukan hingga saat ini. (msn)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO