Ilustari. Foo: bangsaonline
JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Presiden Prabowo Subianto sering menyampaikan pidato retorik tentang pentingnya kedaulatan nagara dan rakyat Indonesia. Terutama dari intervensi negara lain.
Prabowo juga sering menyinggung tentang kesadaran nasionalisme, terutama terkait dengan potensi alam Indonesia.
BACA JUGA:
- Kiai Asep Berharap Indonesia Keluar dari BoP, Ketua PWNU Jabar: Kiai Asep Dibutuhkan NU
- Prabowo Undang Sejumlah Tokoh ke Istana, Bahas Isu Geopolitik
- Kesepakatan Prabowo-Trump: Produk AS Tak Perlu Sertifikasi Halal, Ini Respons LPPOM dan MUI
- Tinggal PSI, Ketum Parpol Rame-Rame Tinggalkan Gibran pada Pilpres 2029
Bahkan dalam bukunya yang berjudul Paradoks Indonesia dan Solusinya (2022), Prabowo menulis pada paragraf pertama begini:
“Kita harus sadarkan sebanyak-banyaknya warga negara Indonesia, bahwa jika dikelola dengan tepat, kita punya modal sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup untuk jadi bangsa yang kuar dan terhormat. Bangsa yang rakyatnya hidup sejahtera
Kini ketika Prabowo memiliki kesempatan jadi presiden, rakyat Indonesia menunggu realisasi retorika-retorika Ketua Umum Partai Gerindra dan mantan Danjen Kopassus itu. Akankah retorika-retorika itu ia wujudkan dalam kebijakan-kebijakannya?
Karena itu banyak rakyat kecewa ketika Prabowo secara politik belum bisa independen dari cawe-cawe presiden sebelumnya, Joko Widodo atau Jokowi. Kita masih ingat ketika Prabowo tiba-tiba “sowan politik” ke Solo setelah beberapa hari dilantik sebagai presiden. Ia sowan kepada Jokowi yang ia anggap sebagai “mentor politik”-nya. Logikanya, bagaiman ia bisa mengaum di dunia internasional, jika menghadapi seorang Jokowi saja ia kesulitan dan ewuh pekewuh.
Kita menyadari Prabowo – mungkin – merasa punya “hutang budi politik” kepada Jokowi karena mantan walikota Solo itu punya kontribusi memenangkan Prabowo dalam pemilihan presiden. Tapi harus diingat, Jokowi dalam Pilpres 2024 itu sejatinya tak bekerja untuk memenangkan Prabowo. Tapi memenangkan Gibran, anak sulungnya, untuk jadi wapres. Faktanya, banyak tokoh yang menjadi “korban politik” Jokowi karena semula “dijanjikan” jadi cawapres tapi kemudian dibatalkan demi anaknya sendiri.
Jadi kalau Prabowo merasa berhutang budi politiknya, sejatinya "jasa politik" Jokowi itu sudah terbalas dengan naiknya Gibran sebagai wapres. Apalagi kapasitas Gibran sebagai wakil presiden dinilai banyak orang tidak perfom. Cenderung membebani Prabowo.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




