Joko Widodo. Foto: Reuters/CNN
JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Sikap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang tidak akan jadi oposisi terhadap pemerintah – bahkan justru siap bekerjasama - menjadi indikasi politik bahwa partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu bakal merapat ke Prabowo Subianto. Bahkan sejumlah elit PDIP dikabarkan sedang berusaha untuk mempertemukan Megawati dengan Prabowo Subianto.
Yang menarik, para petinggi Partai Gerindra juga tampak menyambut positif manuver politik PDIP yang akan merapat ke Prabowo. Salah satunya tercermin dari pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gerindra Ahmad Muzani.
BACA JUGA:
- PDIP Surabaya Rayakan May Day dengan Aksi Sosial, Rangkul Ojol Perempuan
- Anggota DPRD Elyas Beri Bantuan ke Lansia Penjual Kopi di Gempol Pasuruan
- Pelapor Dugaan Korupsi Banpol PDIP Kabupaten Pasuruan Serahkan Dokumen Tambahan ke Kejaksaan
- LPK PDIP Pasuruan Disorot, Dugaan Anggaran Janggal Capai Rp2,22 Miliar
Menurut Ahmad Muzani, sejak Prabowo terpilih menjadi presiden hubungan Megawati dan Prabowo masih terjalin dengan baik. Ketua MPR RI itu mengakui bahwa Prabowo dan Mega belum bertemu tapi segala bentuk komunikasi masih dilakukan antara kedua tokoh tersebut.
Manuver politik PDIP itu tentu tak lepas dari rencana Kongres PDIP yang akan berlangsung pada April 2025. Megawati Soekarnoputri – terutama Puan Maharani –tak ingin Kongres PDIP “diganggu” oleh pemerintah. Maka satu-satunya jalan PDIP harus merapat ke Presiden Prabowo Subianto.
Sikap PDIP itu tentu sekaligus untuk menghalau Joko Widodo (Jokowi) yang oleh PDIP dicurigai akan mengambil alih PDIP. Dan momentum untuk merebut PDIP itu adalah Kongres PDIP yang merupakan permusyawaratan tertinggi partai.
Bagaimana sikap Prabowo Subianto? Seperti sinyal politik para petinggi Gerindra tampaknya Prabowo akan menyambut dengan dua tangan terbuka. Prabowo selain tak punya persoalan politik serius dengan Megawati juga sangat diuntungkan dari segi stabilitas politik di parlemen.
Memang jumlah kursi PDIP di DPR RI turun pada pemilu 2024. Tapi PDIP masih menempati posisi teratas dengan jumlah 110 kursi DPR RI (25.384.673 suara). Di bawah PDIP menyusul Golkar dengan jumlah 102 kursi DPR RI (23.208.488 suara).
Partai Gerindra justru menempati peringkat ketiga tapi dengan selisih cukup jauh. Gerindra mendapat 86 kursi DPR RI (20.071.345 suara).
Nah, dengan bergabungnya PDIP ke pemerintah otomatis memperkuat posisi Prabowo Subianto di parlemen. Hanya saja Prabowo otomatis harus berhadapan dengan Jokowi – teman seiring saat Pilpres.
Inilah dilema politik Prabowo. Apalagi sampai sekarang bayang-bayang Jokowi dalam pemerintahan Prabowo sangat kuat. Bahkan disebut-sebut ada 17 menteri Prabowo yang merupakan loyalis Jokowi. Tak aneh, jika Prabowo masih sempat “sowan” ke Solo, meski Jokowi sudah turun dari jabatan presiden. Tindakan politik Prabowo sowan ke Solo itu sempat disayangkan banyak pihak karena seharusnya justru Jokowi yang datang ke Istana untuk menemui Prabowo.
Tapi untuk manuver politik PDIP tentu Prabowo sudah punya kalkulasi politik sendiri. Artinya, selain mempertimbangkan stabilitas politik jangka pendek, Prabowo juga bakal mengalkulasi Pilpres 2029. Ini juga berarti Prabowo akan menghitung, lebih menguntungkan mana antara bermitra dengan Jokowi atau dengan Megawati dalam menyongsong Pilpres 2029.






