Abu Nuwas. Foto: nikipidea
“Gila kamu,” bentak Sang Raja.
“Maaf Paduka. Jangan marah dulu Paduka. Mohon dengarkan dulu penjelasan saya,” ujar Abu Nuwas. Banyak orang di sekitar raja gregetan.
“Penjelasan apa yang akan engkau sampaikan. Sebagai seorang muslim saya membela perkara yang haq, bukan malah membenci perkara yang haq,” teriak Sang Raja.
Abu Nuwas kemudian menjelaskan. “Paduka Raja, setiap ada orang membaca talqin saya selalu mendengar bahwa mati itu adalah haq dan neraka adalah haq. Nah, Paduka Raja, siapa yang tak benci mati dan neraka yang haq itu. Bukankah Paduka Raja juga membenci seperti saya,” jelas Abu Nuwas.
Raja Harun Ar Rasyid langsung terdiam. Ia membenarkan penjelasan Abu Nuwas. Ia mengakui Abu Nuwas sangat cerdik.
“Tapi bagaimana dengan pernyataan kamu yang suka fitnah,” tanya Sang Raja kemudian.
“Nah ini juga Paduka. Bukan hanya saya yang suka fitnah. Paduka juga pasti suka fitnah,” kata Abu Nuwas.
“Maksud kamu?,” tanya Sang Raja tak sabar.
“Masak Paduka Raja lupa. Dalam al Quran kan jelas disebutkan bahwa harta dan anak kita adalah fitnah. Bukankah Paduka Raja juga sangat senang terhadap harta dan putra Raja,” kata Abu Nuwas.
Lagi-lagi Sang Raja terdiam. Ia bahkan mengangguk-angguk.
“Ya pasti saya sangat senang,” katanya.
“Tapi benarkah kamu mengaku lebih kaya dibanding Allah. Apa makasudmu,” tanya Sang Raja penasaran.
Abu Nuwas kembali tersenyum. “Paduka, anak adalah kekayaan. Saya lebih kaya dari pada Allah, karena saya punya banyak anak. Sedangkan Allah SWT satu pun tak punya anak. Allah tidak punya anak dan juga tidak diperanakkan,” ujar Abu Nuwas.
Raja Harun Ar Rasyid Kembali mengangguk-angguk. Kali ini Sang Raja mulai tersenyum.
“Lalu apa motif kamu membuat kegaduhan dan sensasi di masyarakat seperti ini,” tanya Sang Raja.
Abu Nawas tertawa. “Saya sengaja berbuat seperti itu agar saya ditangkap dan dihadapkan kepada Tuan Paduka Raja,” kata Abu Nuwas terus terang.
“Apa perlunya kami bertemu saya,” tanya Sang Raja lagi.
“Ampun Paduka Raja, agar saya diberi hadiah oleh Tuan Raja,” kata Abu Nuwas.
Raja Harun Ar Rasyid langsung tertawa. Para pejabat dan keluarga raja di Istana juga tertawa.
Wallahua’lam bisshawab.(Dari berbagai sumber)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




