Presiden RI Prabowo Subianto. Foto: Dok. Setneg.
“Keanekaragaman hayati ini bukan hanya mamalia besar, serangga juga bagian dari keanekaragaman hayati. Bahkan dalam satu pohon besar bisa lebih dari ribuan biodiversity tinggal di situ. Jadi bukan semerta-merta dia hanya menghasilkan oksigen, orang hutan akan kesulitan tinggal di kelapa sawit, karena dia (kelapa sawit) gak punya makanannya,” imbuhnya.
Selain itu, menurut Greenpeace, dampak kerusakannya akan sangat luar biasa hingga berpotensi terjadi cuaca ekstrem, gagal panen, suhu yang terus meningkat, dan banjir.
Sependapat dengan Greenpeace, Walhi juga menyesalkan rencana Prabowo yang akan membuka 20 hektar hutan untuk kelapa sawit.
“Kok bisa sih pernyataan antisains ini keluar dari mulut seorang presiden. Padahal, 2022 lalu KLHK dengan tegas menyebut sawit bukan tanaman hutan,” tulis Walhi di akun X @walhinasional.
Oleh karena itu, kedua organisasi lingkungan tersebut berharap, Prabowo mengkaji ulang atas rencananya yang akan membuka hutan seluas 20 hektar.
Bahkan Greenpeace menyebut, mimpi ketahanan pangan tidak akan bisa terwujud tanpa keanekaragaman hayati yang ada di hutan Indonesia.
“Yuk bisa yuk, belajar lagi dari pembantunya dan para pakar, mumpung belum 100 hari, biar jangan asal omon-omon,” pungkas Greenpeace. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




