Foto: Dok. Pesantren Tebuireng
“Wong ciliknya tetap cilik. Bahkan mungkin makin cilik. Sementara yang gede semakin gede,” tambah Ning Inayah.
Untuk memaknai dan meneladani Gus Dur membela orang lemah, Inayah memberi contoh Gus Dur dalam membela posisi perempuan.
“Untuk semua perempuan yang ada di sini. Dan semua laki-laki yang ada di sini. Karena semua lahir dari rahim perempuan,” kata Ning Inayah.
Menurut dia, di Indonesia perempuan itu diperingahati sebagai Hari Ibu Nasional. Padahal, tutur Inayah, saat Hari Ibu Nasional itu dicanangkan oleh Presiden Soekarno adalah sebagai kekuatan perempuan.
“Untuk pemberdayaan perempuan. Bahwa perempuan adalah makhluk yang berdaya seperti laki-laki,” tegasnya.
Tapi dalam perkembangannya Hari Ibu Nasional kemudian direduksi, dikurangi, menjadi Hari Ibu saja. Yaitu hanya sebagai orang ibu yang mengurusi keluarga dan anak-anak.
Maka Gus Dur, terutama saat menjadi presiden, mengembalikan kekuatan mereka. Gus Dur menganggap bahwa perempuan berdaya. “Oleh Gus Dur kembali dibangkitkan kekuatannya,” katanya.
Karena itu Inayah berkesimpulan bahwa membela yang lemah itu ada dua hal.
“Pertama, membela yang lemah itu kita bersama mereka. Kita berdiri bersama mereka. Dan tidak diragukan lagi. Kita semua sudah paham bagaimana Gus Dur selalu bersama mereka,” katanya.
Ning Inayah bercerita, ketika ada kelompok diperlakukan tidak adil oleh kelompok yang lebih berkuasa, apapun kekuasaannya, entah itu negara atau kelompok yang lain, Gus pasti membela.
“Beliau (Gus Dur) pasti bersama mereka yang dilemahkan. Beliau pasti bersama mereka para mustad’afin. Jadi kalau hari ini kita ngomongin kelompok-kelompok yang sedang pusing karena mulai bulan depan akan menghadapi PPN 12 %. Saya yakin Gus Dur akan bersama mereka yang pusing harus menghadapi PPN naik 12 % tersebut,” tegasnya.
Kedua, kata Inayah, bagaimana harus memaknai membela yang lemah. “Gus Dur selalu percaya bahwa tidak ada manusia yang lemah, bodoh dan miskin. Yang ada hanya kelompok-kelompok yang dilemahkan, dimiskinkan dan dibodohkan,” jelasnya.
“Dan seringkali hal tersebut dilakukan secara terstruktur dan massif untuk kepentingan mereka,” tambahnya.
Maka satu hal yang harus kita lakukan, kata Ning Inayah, dalam membela mereka yang lemah adalah mengembalikan kesadaran kepada mereka yang dilemahkan bahwa mereka tidak lemah.
“Dan membantu memulihkan keberdayaan mereka. Dan saya yakin itu yang dilakukan Gus Dur selama ini. Dan bagaimana kita melakukan itu semua, kita harus selalu mengasah nurani,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




