Peresmian RKS di Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Gresik. Foto: Ist
"Pendampingan harus terus dilakukan agar pengelolaan sampah ini bisa berjalan dengan baik," ucapnya.
Senior Manager of GA and Legal Document Section PT Smelting, Sapto Hadi Prayetno, menjelaskan bahwa pihaknya senang dapat mengembangkan pengelolaan sampah di Desa Sukomulyo, lantaran program ini tidak hanya mengurangi masalah sampah, tetapi juga dapat berlanjut dengan konsep berkelanjutan seperti yang mereka lakukan di Sukabumi.
Di sana, kata Sapto, PT Smelting mengembangkan pengelolaan sampah RKS berbasis sampah plastik, mengembangkan kerajinan dan eco tourism.
"Kami berharap program ini dapat diterapkan dengan kontinyu, tidak hanya berhenti pada pembangunan, tetapi juga pada pengelolaan dan pengurangan sampah yang berkelanjutan," tuturnya.
Ia pun berharap adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk mengefisienkan proses produksi dalam operasional rumah kelola sampah ini, mengingat mesin pirolisis memerlukan energi gas pada prosesnya.
"Jika nanti ada sampah non-plastik yang bisa dipilah dan memiliki nilai ekonomi, itu akan sangat membantu," ujarnya.
Petugas pengelola RKS, Baharudin, menjelaskan mesin pirolisis yang diberikan PT Smelting mampu mengolah 10 kg sampah plastik dalam sekali proses, dan menghasilkan sekitar 5 liter solar, 1,5 liter minyak tanah, dan 1,5 liter premium.
"Proses ini memakan waktu sekitar 4 jam dan paling efektif untuk plastik jenis PE, seperti tas kresek," cetusnya.
Dengan adanya RKS ini, diharapkan Desa Sukomulyo dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola sampah secara berkelanjutan, sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. (hud/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






