Para santri putri Amanatul Ummah saat pamit dan minta restu kepada Sang Kiai, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, terkait keberangkatan mereka melanjutkan studi ke Timur Tengah di kediamannya Jalan Siwalankerto Utara Surabaya. Foto: BANGSAONLINE
Ia bercerita bahwa Universitas Al Azhar Mesir memang sangat maju dan menerapkan prinsip Islam dalam pembelajaran.
“Tidak dibatasi umur. Orang punya anak pun boleh kuliah S1,” katanya sembari mengutip Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi. Yang artinya, tuntutlah ilmu sejak ayunan hingga liang lahat.
Menurut dia, seleksi di Universitas Al Azhar didasarkan pada kualitas, bukan usia.
"Orang yang punya anak pun boleh kuliah S1," katanya.
“Saya dulu juga kaget. Orang gendong anak kok masih kuliah S1,” tambahnya sembari mengatakan bahwa orang tersebut menitipkan anaknya saat masuk ruang kuliah.
Karena itu seleksinya cukup ketat. Diantaranya harus hafal Al Quran. "Untuk orang Arab harus hafal 7,5 juz," kata Tabrani.
Sedangkan untuk calon mahasiswa Indonesia sekarang sudah agak ringan.
"Untuk orang Indonesia hanya 2 juz. Yaitu juz 1 dan juz 2. Kalau juz 30 kan otomatis sudah hafal, karena surat-surat pendek," katanya.
Tapi setelah diterima sebagai mahasiswa mereka harus terus istiqamah menghafal Al Quran. Menurut Tabrani, untuk mahasiswa Arab harus hafal 30 juz ketika lulus.
"Jadi setiap semester harus hafal 7,5 juz. Jadi 4 semester sampai lulus dia sudah hafal 30 juz," katanya.
"Kalau dulu mahasiswa dari Indonesia dan negara-negara non Arab lainnya, sampai lulus hanya wajib hafal 8 juz, sekarang malah cukup 4 juz" katanya lagi
Seperti diberitakan BANGSAONLINE, pada tahun 2024 ini banyak sekali santri Amanatul Ummah yang diterima di perguruan tinggi negeri baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan sebanyak 624 santri Amanatul Ummah diterima di perguruan tinggi negeri favorit. Yaitu di ITB, ITS, Unair, UB, UI, UIN, UGM, dan perguruan tinggi negeri lainnya.

Sementara untuk perguruan tinggi luar negeri, santri Amanatul Ummah juga diterima di perguruan tinggi Amerika Serikat, Jerman, Rusia, China dan negara-negara Eropa lainnya.
Rata-rata mereka diterima melalui beasiswa. “Karena memang kita upayakan untuk beasiswa. Itulah untungnya belajar di Amanatul Ummah. Ikut mengurangi beban orang tua,” kata Kiai Asep.
Tak aneh jika banyak sekali orang tua yang memondokkan putra-putrinya di Amanatul Ummah. Bahkan beberapa lembaga pendidikan luar negeri berkunjung dan melakukan studi banding ke Amanatul Ummah.
Sekarang pendaftaran santri baru Amanatul Ummah dibuka. Peminatnya sangat banyak.
“Pada gelombang pertama sudah mendapat ribuan santri baru,” tutur Ustadz Mukhlis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




