Para WBP di Lapas Kediri saat antre untuk mencoblos. Foto: Ist.
"Kami telah mempersiapkan TPS khusus ini secara maksimal dengan melibatkan seluruh jajaran. Selain memastikan kelancaran teknis, kami juga menitikberatkan pada aspek keamanan dan kenyamanan WBP saat menggunakan hak pilih mereka," ujar Urip.
Untuk meningkatkan keamanan, seluruh staf dilibatkan dan dibagi menjadi beberapa tim pengamanan. Pengamanan ketat diterapkan baik di dalam maupun di sekitar area TPS.
Setiap tahapan pemungutan suara, mulai dari pemanggilan WBP hingga penghitungan suara, diawasi secara cermat untuk menghindari kendala dan menjaga ketertiban.
Menurut Urip, proses pemungutan suara juga berjalan sesuai alur yang telah dirancang. Setiap WBP dipanggil secara bergiliran, sehingga tidak terjadi kerumunan. Dekorasi TPS yang dirancang sedemikian rupa menambah semangat demokrasi di lingkungan lapas.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun berada di dalam lapas, hak WBP sebagai warga negara tetap terjamin.
"Melalui pilkada ini, kami ingin menunjukkan bahwa pembinaan di lapas tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga pada kesadaran demokrasi dan hak politik WBP. Kami harap ini menjadi pengalaman positif bagi mereka," tambah Urip.
Pelaksanaan pilkada di Lapas Kelas IIA Kediri, lanjut Urip, juga sesuai dengan arahan Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jawa Timur, Heni Yuwono, yang menekankan pentingnya kolaborasi dengan instansi terkait untuk memenuhi hak-hak WBP, termasuk hak pilih mereka.
"Langkah ini dapat memberikan inspirasi bagi WBP untuk menjadi warga negara yang baik setelah bebas nantinya," pungkasnya. (uji/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




