Rapat yang digelar DPRD Jombang.
Kartiyono menambahkan, dari puluhan ribu santri tadi dipastikan memiliki kedua orang tua atau wali santri. Apabila mereka melakukan sambang minimal setahun dua kali, sudah sebanyak 200.000 kunjungan ke Kabupaten Jombang.
"Padahal saat sambang tadi bisa minimal 3 sampai 5 anggota keluarga yang ikut, taruhlah akumulatifnya mencapai 500.000 kunjungan per tahun. Potensi inilah yang harus ditangkap, dengan secepatnya membuat cetak biru atau blueprint wisata," ucapnya.
Dalam blueprint yang nantinya include dalam Peraturan Daerah (Perda), langkah-langkah strategis yang bisa diambil ketika kunjungan sambang bisa dilakukan.
"Tugas kita kan bagaimana saat kunjungan tadi, mereka bisa betah berlama-lama di Jombang. Belanjakan uang di sini, bukan justru yang selama ini terjadi malah ke Mojokerto, Kediri, hingga Kabupaten Nganjuk," sebutnya.
Kondisi tersebut terjadi lantaran tidak ada atau minimnya potensi wisata yang ada serta bisa ditawarkan kepada wisatawan. Sehingga, usai sambang mereka yang notabene datang dari luar kota bahkan luar Jawa memilih mengunjungi daerah sekitar Jombang.
"Poin paling krusial yakni harus ada arah yang jelas terlebih dulu. Sehingga nantinya kita memiliki potensi wisata bukan hanya tingkat regional, namun juga Internasional," ungkapnya.
Langkah-langkah strategis yang bisa diambil begitu blueprint jadi, dilakukan pemetaan jalan maupun panduan arah pembangunan pariwisata yang ada di Kabupaten Jombang.
"Pembangunan dimulai darimana, lalu apa saja yang bakal dieksplorasi tentu menjadi pertanyaan tersendiri. Namun ketika dilakukan pemetaan jalan maupun panduan arah pembangunan pariwisata, semuanya tentu bukanlah menjadi hal yang sulit," pungkasnya. (aan/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




