Khofifah mengapresiasi semangat petani millenial asal Trenggalek ini. Menurutnya Miftah adalah salah satu petani yang kaya inovasi yang menjadikan Jatim sebagai provinsi dengan jumlah petani millenial terbanyak di Indonesia.
“Pelaku usaha pembibitan tanaman itu memang tidak murah dan tidak mudah. Maka kita sampaikan apresiasi pada Mas Miftah yang mengembangkan berbagai bibit tanaman khususnya yang langka adalah durian ripto,” kata Khofifah.
“Para durian lover kalau mau cari musang king, blackthorn relatif lebih mudah. Tapi kalau durian ripto itu lumayan susah dapatnya, padahal ini khas Trenggalek,” terang Khofifah.
Menurut Khofifah, pembibitan buah khas Trenggalek ini sangat penting dilakukan. Kalau tidak lama-kelamaan bisa punah. Sehingga inovasi yang dikembangkan Miftah dinilai Khofifah sangat baik.
“Nah maka berikutnya usaha pembibitan seperti ini harus bertemu dengan pasar. Maka kita akan membantu memperluas akses pasar supaya setelah dibibit, segera bisa didesiminasikan ditanam di lahan yang firm supaya bisa cepat berbuah,” janji Khofifah.
Mengenai permodalan, Khofifah berkomitmen akan membantu petani millenial durian ripto untuk bisa mendapatkan akses permodalan KUR dengan keringanan grace period atau masa tenggang dalam waktu pembayaran cicilan.
“Saya di periode pertama, sudah membantu akses agar petani alpukat dapat grace periode. Karena kalau alpukat ini harus menunggu lima tahun untuk bisa berbuah. Saat itu saya bertemu langsung dengan pimpinan OJK khusus untuk petani alpukat aligator dan kendil,” jelas Khofifah.
Dijelaskan Khofifah, pembibitan durian ripto yang membutuhkan waktu enam tahun baru berbuah, jika mengembangkan pembibitan secara massal, menunggu waktu enam tahun tentu tidak nutut jika tidak dibantu akses modal dengan skema grace period. Khofifah berjanji akan mengkomunikasikan dengan OJK agar petani tetap bisa mengembangkan usahanya. (dev/ns)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




