Cici saat melayani pembeli di gerainya. (foto: devi fitri afriyanti/BANGSAONLINE)
Cici menjual bermacam-macam model, mulai gergaji, background, juga umbul-umbul. Termasuk berbagai ukuran. Coraknya pun beragam, seperti gambar sukarno, garuda, batik, bunga matahari, layur, Indosiar. "Konsumen memilih sesuka hati. Saat ini yang ngetren adalah bendera yang ada garudanya, kalau instansi atau kantor-kantor biasanya memilih model standar," kata Cici, yang rumahnya di Darmo Kali ini.
Memang awalnya, membesarkan usaha kerajinan ini tak semudah membalik tangan. Keluarga Cici dengan gigih memasarkan secara door to door, di kantor-kantor atau kampung. Tetapi sekarang, keluarga Cici sudah bisa menikmati hasilnya. Pembeli dan pemesan sudah sampai Kalimantan dan Bali. "Pemesan umumnya membeli dalam jumlah ratusan," kata dia.
Cici pun tetap optimis, karena semakin tahun jumlah pembeli semakin meningkat. "Hanya tahun kemarin, pembeli agak menurun karena berbarengan dengan momen idul fitri," kata Cici.
Sang Kakak, Yayuk, yang mempunyai gerai bernama Kharisma, mengaku, setiap hari bisa mengantongi omzet Rp 2 juta. Dia sudah menyelami usaha bisnis bendera ini selama 15 tahun.
Di lokasi jualan pun tersedia tiga mesin, meliputi mesin jahit, obras. Mesin-mesin ini, selain untuk memroduksi bendera, juga digunakan untuk memodif sesuai keinginan pembeli. (sby2/ros)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




