KH. Drs. H. A Ghozali Masruri. foto: tribunnews
”Tapi Munasnya tak berbobot,” katanya.
Ia juga mengungkap alasan-alasan AHWA yang dipaksakan secara tak masuk akal.
“Saya tanya dalam Munas kenapa tiba-tiba ada konsep pemilihan Ahlul Hali Wal Aqdi ini. Mereka tak jawab. Mereka mau membuka kitab. Saya bilang, tak usah buka kitab. Karena yang hadir di sini kiai semua, alim kitab semua. Jadi dalilnya sudah tahu. Yang saya tanya kenapa kok tiba-tiba ada konsep ini. Ini kan Ahlul Halli Wal 'NGAKALI' (membodohi/mencurangi, red). Ini bahaya sekali,” tegas Kiai Ghozali Masruri.
Ia juga menceritakan alasan kiai dari Jawa Timur yang hadir dalam Munas tersebut. ”Dari Jawa Timur bilang kepada saya. Sampean kan gak tahu Jawa Timur. Di Jawa Timur itu bukan kiai tapi jadi Rais Syuriah. Karena itu perlu AHWA,” katanya sembari menyebut nama seorang kiai yang cenderung meremehkan rais Syuriah PCNU di Jawa Timur tersebut. ”Saya jawab itu kan kasuistis,” katanya.
Kiai Ghozali Masruri justru mempertanyakan kinerja jajaran Syuriah PBNU yang menurut dia tidak maksimal. ”Sekarang ini Syuriah itu kan banyak, A’wan banyak, Katib banyak dan fasilitasnya banyak. Tapi kenapa kok gak sungguh-sungguh,” katanya.
Ia menceritakan prestasi kiai-kiai jaman dulu dalam bahtsul masail. ”Dulu kalau bahtsul masail semua kiai membuka kitab kuning di tempat bahtsul masail (jadi obeyektif). 28 masalah langsung selesai. Paling sisa empat masalah. Jadi tak seperti sekarang, jawabannya sudah ada lebih dulu,” katanya.
Ia mengaku masih kerabat dekat dengan KH A Mustofa Bisri, tapi dalam masalah NU ia mengaku tak melihat orang perorang. ”Dalam Muktamar NU saya tak melihat man (orang) tapi melihat konsep,” katanya.
“Baru setelah konsep itu ada kita carikan orangnya yang tepat,” katanya. Karena itu ia tak sepakat dengan langkah PBNU yang cenderung menggiring AHWA untuk kepentingan status quo (kelanggengan kekuasaan) kepemimpinan PBNU sekarang.
Seperti diberitakan, Munas Alim Ulama yang diselenggarakan PBNU diklaim menyepakati Rais Aam PBNU dipilih secara musyawarah untuk mufakat oleh Ahlul Halli wal Aqdi.
"Pemilihan Rais Aam secara otomatis akan diterapkan dalam Muktamar yang akan dilaksanakan bulan Agustus mendatang," ungkap pimpinan sidang Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Ishomuddin, dalam siaran pers yang diterima, Senin (15/6/2015).
Padahal, menurut Kiai Ghozali Masruri, AHWA tidak otomatis jadi sistem pemilihan dalam Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang. Karena Munas tak punya hak untuk memaksakan kepada Muktamar. ”Yang menentukan ya para muktamirin,” katanya.
Artinya, apakah nanti pakai AHWA atau sistem pemilihan langsung dalam Muktamar ke-33 nanti tetap para Muktamirin yang menentukan. Karena produk Munas tidak mengikat dan tidak final. (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




