Prof Dr KH Ahmad Zahro. Foto: ist
Menurut Prof Ahmad Zahro, di negara-negara Arab jarang sekali orang salat tarawih 8 rakaat. Sebaliknya, jumlah salat tarawih ulama-ulama Arab jauh lebih banyak dari orang Indonesia.
“Di Yaman ulama salat tarawih 100 rakaat. Saya sudah keliling ke beberapa negara,” kata Prof Ahmad Zahro.
Hanya saja, kata Prof Zahro, tak semua umat Islam di Yaman salat tarawih 100 rakaat. “Yang tua-tua yang sudah dekat kuburan yang berani salat tarawih 100 rakaat. Yang muda-muda tidak,” kata Prof Ahmad Zahro.
Ia mengaku heran dengan sikap sebagaian umat Islam yang pecah gara-gara jumlah salat tarawih yang dilakukan.. “Pepercahaan itu diharamkan (oleh Allah SWT). Sedang salat tarawih (sunnah), tidak salat tarawih juga gak apa-apa,” katanya.
Ia menyinggung kecenderungan jemaah salat tarawih yang mengalami penurunan ketika mencapai pertengahan Ramadan. Ia mengingatkan bahwa bulan Ramadan sangat istimewa sehingga umat Islam harus semangat untuk memanfaatkan momentum bulan suci itu makin meningkatkan volume ibadahnya. Karena, tegas Prof Ahmad Zahro, belum tentu Ramadan yang akan datang kita menangi atau menemui Ramadan lagi.
Karena itu Prof Ahmad Zahro mengajak bersyukur kepada Allah SWT sekaligus memanfaatkam momentum bulan suci ini sebaik-baiknya untuk beriibadah, terutama memaksimalkan salat tarawih. (MMA)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




