H Makmun Masyhar dan KH TB Abdul Hakim. foto: dokumen BANGSAONLINE
Jadi kemandirian NU selalu terjaga. ”Ketika pemilihan Gubernur saya ditanya oleh Ibu Atut. Pak Ketua NU gimana,” ungkap Makmur Masyhar.
”Saya jawab, NU punya aturan sendiri. NU tak boleh terlibat dukung mendukung. Tapi pengurus sebagai warga NU punya hak politik. Karena itu saya sebagai pengurus NU tak bisa mendukung Ibu. Saran saya Ibu silaturahim saja ke pesantren-pesantren,” kata Makmur Masyhar kepada Ratu Atut.
Ratu Atut maklum. Ia melaksanakan saran Makmur Masyhar dan menang mutlak dalam pemilihan gubernur di Banten. ”Jadi kita harus membedakan antara mengurus NU dan kepentingan politik,” kata Makmur.
Yang menarik, Makmur Masyhar mengaku pernah diancam Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Menurut dia, Gus Ipul sebagai ketua PBNU marah kepada dirinya.
”Dia telepon saya. Memangnya Makmur itu siapa, kok tak patuh,” kata Makmur Masyhar menirukan ucapan Gus Ipul sembari tersenyum. Bahkan bukan hanya diancam, PWNU Banten kemudian dibekukan.
”PWNU Banten sempat di-karteker,” kata Makmur mengisahkan. Namun berbeda dengan PWNU Jawa Timur yang saat diancam diam, PWNU Banten melawan.
Perlawanan itu mereka tunjukkan saat PBNU menurunkan pengurus karteker ke Banten. ”Dalam rapat di PWNU tim karteker itu dituding-tuding oleh para kiai dan pengurus PWNU Banten. Mereka disuruh balik aja ke Jakarta. Akhirnya mereka kembali ke Jakarta,” kata Makmur sembari tertawa.
”Kita ini mengurus NU dengan benar kok dipersoalkan,” kata Makmur. (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




