Suasana banjir rob di Pulau Mengare, Bungah, Gresik. Foto: SYUHUD/BANGSAONLINE
GRESIK, BANGSAONLINE.com - Pemerhati Lingkungan Perairan Gresik, Farikhah, menanggapi banjir rob yang menerjang berbagai wilayah di Kota Pudak. Bahkan, banjir yang disebabkan pasangnya air laut itu menyebabkan tambak ikan di Pulau Mengare dan Kecamatan Ujungpangkah, jebol.
Berdasarkan studi pada 2017, kata Farikhah, laju abrasi di Gresik terbilang ekstrem, mencapai 5,15 km² dalam 15 tahun terakhir atau setara 0,34 km² per tahun. Menurut dia, banjir rob merupakan peristiwa alam yang diakibatkan gaya pasang-surut air laut.
BACA JUGA:
- DPRD Gresik Belum Bahas Relokasi 43 PKL Kali Avoor
- Siap Luaskan Pasar Global, SIG Rampungkan Proyek Dermaga dan Fasilitas Produksi di Tuban
- PT PON Salurkan Beasiswa Sekolah Kejar Paket B & C Lewat Program Pintas di Tlogopojok
- BMKG Ungkap Potensi Banjir Rob di Pesisir Jatim Awal hingga Pertengahan Mei 2026
"Beberapa pekan lalu terjadi rob dengan kekuatan hebat, sehingga menyapu wilayah di sepanjang garis pantai utara, seperti di Tuban, Ujungpangkah, hingga Pulau Mengare,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (16/6/2022).
Ketua Program Studi Budidaya Perikanan Universitas Muhammadiyah Gresik ini menyebut, rob yang sekarang tampak lebih hebat dan merusak. Hal itu terjadi lantaran tanaman penahan air kurang, sehingga memicu abrasi.
"Beberapa titik yang saya lihat karena kurangnya tanaman penahan seperti mangrove,” tuturnya.
Di Gresik, lanjut Farikhah, abrasi selalu beriring dengan akresi (penambahan garis pantai) akibat sedimentasi atau biasa disebut sebagai tanah oloran.
"Luasannya juga luar biasa. Sering juga masyarakat lokal menggunakan tanah oloran menjadi tambak," ungkapnya.
Tak hanya itu, tambah dia, berdasarkan wawancara terhadap ribuan petambak di Kabupaten Gresik dan Lamongan ditemukan fenomena kenaikan air laut setiap tahunnya.






