Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam acara Pelantikan Pergunu Demak Jawa Tengah, Sabtu (21/5/2022) malam. Foto: MMA/bangsaonline.com
DEMAK, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, mengaku takut nikmat rezeki dan nikmat lainnya dicabut oleh Allah SWT. Karena itu Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu berusaha untuk mengamankan berbagai nikmat yang telah diterima selama ini.
“Saya takut nikmat itu hilang,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim kepada BANGSAONLINE.com usai memberikan taushiah dalam acara Halal Bihalal Pergunu Kudus dan Bedah Buku di Sekretariat Pondok Tahfidz Yanba’ul Quran Kudus dan Pelantikan Pergunu Demak di kantor PCNU Demak Jawa Tengah, Sabtu (21/5/2022) sore. Kiai Asep sore itu memang menghadiri acara Pergunu di dua tempat di Jawa Tengah.
BACA JUGA:
- Antre Sedekah Kiai Asep, Ratusan Orang Datang Sejak Pukul 3 Malam di Siwalankerto Surabaya
- Ketua Panitia Muktamar NU Harus Adil dan Netral, Bukan Kubu Kiai Miftah, Bukan Kubu Gus Yahya
- Kiai Asep Bertemu Dubes Mesir Bahas Pendidikan, Mesir Siap Kirim 1.000 Guru Bahasa Arab
- Imbas Perang Global terhadap Indonesia, IAIN Gorontalo Gelar Seminar Disrupsi Ekonomi
Karena itu Kiai Asep berusaha mengamankan nikmat yang selama ini telah ia terima dari Allah SWT. Cara mengamankannya bagaimana? “Ya dengan sodaqoh,” tegas Ketua Umum Pimpinan Pusat Pergunu itu.

Sodaqoh itu, tegas Kiai Asep, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Sebab rasa syukur itulah yang bisa mengamankan dan melanggengkan nikmat kita. Bahkan Allah SWT menjamin, jika kita bersyukur, maka nikmat itu tidak hanya langgeng tapi juga akan bertambah.
Karena itu Kiai Asep tak pernah eman hartanya disedekahkan. Setiap hari Kiai Asep pasti bersedekah. Sehingga tiada hari tanpa sedekah.
Bahkan Kiai Asep melarang Panitia Kongres Pergunu membuat proposal bantuan dana kepada siapapun, termasuk kepada pemerintah. “Semua biaya Kongres Pergunu saya yang nanggung,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep memperkirakan Kongres Pergunu menghabiskan Rp 6 miliar. “Tiket pesawatnya saja sekarang sudah habis Rp 2 miliar. Berarti PP (pulang pergi) sekitar Rp 4 miliar,” tutur Kiai Asep.
Kiai Asep melarang Panitia Kongres Pergunu minta sumbangan juga karena khawatir tak bisa mempertanggungjawabkan dan tidak Amanah.
“Selain itu saya takut tidak barokah karena dana yang didapatkan tak jelas dari mana,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep juga punya alasan lain, kenapa Pergunu yang dipimpinnya tak mau disumbang. “Orang yang membantu cenderung menganggap rendah terhadap orang yang dibantu,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep berusaha menjaga wibawa dan kehormatan Pergunu agar tak direndahkan. Oleh siapapun. Termasuk oleh pemerintah.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




