KH Chalid Mawardi
”Saya melihat sendiri saat muktamar di Makasar permainan uang. Ini jangan sampai terjadi lagi di NU. Muktamar Makassar Muktamar terjelek karena ada oknum yang bermain uang untuk meraih jabatan di NU,” katanya. Produk Muktamar NU Makassar tentu saja sudah diketahui bersama.
Chalid Mawardi mengaku setuju Ahwa karena alasan peristiwa buruk Muktamar di Makasar. Tapi praktiknya, menurut dia, harus tokoh NU yang betul-betul disaring dari PCNU, PWNU, lalu di ambil 9 orang untuk menentukan PBNU. Jadi bukan langsung menunjuk 9 orang begitu saja.
Saat ditanya apakah mungkin Ahwa model itu bisa dilaksanakan dalam Muktamar NU ke-33 mengingat waktu yang sudah dekat?. Chalid Mawardi tidak menjawab tegas karena Ahwa masih kontroversial: PCNU dan PWNU belum bisa menerima.
Chalid Mawardi mengingatkan bahwa Pancasila ini bisa kuat jadi dasar negara RI karena ada NU. ”Jadi NU jangan sampai dimasuki aliran/paham lain seperti Syi’ah, HTI, Wahabi atau organisasi lain yang tidak menerima Pancasila. Kalau NU sudah lepas dari ulama Ahlussunnah wal Jama’ah saya yakin 10 tahun lagi Pancasila akan lenyap,” tegasnya.
Tapi, menurut dia, Allah SWT selalu memberi ma'unah (pertolongan) dengan munculnya orang hebat yang menggerakkan NU. Artinya, disamping keberadaan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Idham Chalid dan para kiai-kiai pondok pesantren, selalu ada tokoh seperti KH Mahfudz Shiddiq yang ahli dibidang administrasi, sehingga NU menjadi organisasi yang memiliki manejemen.
Selain KH Mahfudz Shiddiq juga ada KH. Wahid Hasyim yang memiliki pemikiran politik kebangsaan yang dikagumi tokoh tokoh nasional. Ada H. Subhan, ZE yang memiliki pemikiran politik nasional yang dapat memberi pencerahan dan pemahaman politik pada warga NU. Ada KH. Abdurrahman Wahid yang memiliki pemikiran keagamaan, kebangsaan, politik dan pluralisme yang dikagumi masyarakat nasional maupun internasional.
”Lalu ada KH. Hasyim Muzadi yang memiliki kemampuan memperjuangkan missi Islam rahmatan lil’alamin, Islam yang moderat hingga ke dunia internasional melalui NU dan ICIS-nya. Dan selalu aktif dalam mengikuti perkembangan dan menangani masalah keagamaan, kebangsaan dan politik nasional maupun internasional,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




