Ahlul Halli Wal Aqdi Versi PBNU Bisa Hegemoni Minoritas Terhadap Mayoritas

Ahlul Halli Wal Aqdi Versi PBNU Bisa Hegemoni Minoritas Terhadap Mayoritas Dr Mutawalli. Foto: jarikmataram. wordpress

Soal dihapusnya PWNU ini memang menjadi perbincangan hangat di internal NU. ”Konsul itu nanti ditunjuk oleh PBNU. Jadi tak ada pemilihan,” kata Abdullah Ulumando. Artinya, hanya orang yang disukai PBNU yang ditunjuk.

Begitu juga draft PBNU yang mau menghapus Katib Am dan A’wan. ”Semua kita tolak,” kata Abdullah Ulumando. Yang paling parah soal rencana PBNU mau menghapus MWC dan Anak Ranting NU. ”Itu maunya apa. MWC, Ranting dan Anak Ranting itu kan kaki NU, kok mau dihapus,” kata Abdullah Ulumando. Dalam draft PBNU itu MWC NU menjadi sekedar wakil cabang, sedang anak cabang dihapus. Ironisnya, rencana PBNU yang mau mengubah struktur organisasi secara radikal ini tak pernah sampai ke PCNU. Menurut dia, sebagian PWNU sengaja menyembunyikan informasi ini kepada PCNU agar mereka tak tahu dan tak protes.

Sementara beberapa peserta Pra-Muktamar sependapat dengan pendapat KH. Ahmad Baghowi, Rais Syuriyah PCNU Nganjuk Jawa Timur. Dalam acara tersebut sempat beredar foto kopi berita wawancara Kiai Ahmad Baghowi yang dimuat BANGSAONLINE.com.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE.com, Kiai Ahmad Baghowi mengingatkan BANGSAONLINE.com lewat sms. ”Pada waktu Rasulullah wafat jumlah sahabat 124.000 orang, kemudian mengangkat Khalifah Abu Bakar dengan (wakil pemilih/anggota Ahwa) berjumlah 5 orang,” tulis Kiai Ahmad Baghawi lewat SMS kepada BANGSAONLINE.com. Artinya, para sahabat yang saat itu berjumlah 124.000 orang diwakili oleh 5 orang untuk memilih Khalifah Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah SAW. 

”Sekarang jumlah warga NU ratusan juta, kalau jumlah anggota Ahwa 500 orang sudah sesuai,” kata Kiai Ahmad Baghowi. Artinya, pemilihan Rais Am dan Ketua Umum PBNU yang selama ini diwakili 500 Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah seluruh Indonesia sudah sesuai Ahwa. “Silakan lihat kitab Qorthrul Ghaits halaman 12 dan kitab Al-Fiqhu Alaa Madzahibil Arb’ah halaman 1364,” kata Kiai Ahmad Baghowi. 

Menurut dia, sangat tidak masuk akal kalau warga NU yang jumlahnya ratusan juta hanya diwakili 9 orang seperti konsep Ahwa PWNU Jawa Timur dalam memilih Rais Am dan Ketua Umum PBNU. Sebab konsep tersebut selain mengerdilkan NU juga menghambat semangat pengurus NU di daerah untuk berkhidmat pada NU. “Ini jelas mengurangi semangat PCNU,” tegasnya. Padahal, menurut dia, PBNU dan PWNU Jawa Timur seharusnya member support dan motivasi kepada PCNU agar semakin semangat untuk berkhidmat di NU, bukan malah menghambat dengan berbagai rancangan aturan.

Kiai Ahmad Baghowi juga mengingatkan agar Ahwa jangan dijadikan alat kekuasaan untuk tujuan diluar jalur agama atau syariat Islam. ”Ahwa jangan bertujuan untuk mendukung atau menjatuhkan calon Rais Am atau Ketua Umum PBNU. Tapi harus bertujuan mengikuti jejak Khulafaurrasyidin sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW,” katanya.

Kiai Ahmad Baghowi juga mengingatkan tentang upaya PBNU untuk melakukan perombakan struktur kepengurusan NU. ”Dengan alasan untuk merampingkan kepengurusan NU kini ada draft kepengurusan dari tim PBNU. Draft struktur kepengurusan tersebut mirip sekali dengan Syiah Imamiyah,” tegasnya.

Ia menyebut salah satu contoh dalam dratf tersebut. Yaitu PWNU mau diganti dengan istilah konsul yang hanya dikendalikan 5 orang pengurus. ”Itu pun yang nunjuk PB(NU). Ini kan persis dengan Syiah Imamiyah. Semuanya ditentukan dan harus patuh kepada pusat,” kata Kiai Ahmad Baghowi. 

Ia menilai indikasi PBNU kerasukan paham Syiah semakin jelas. “Ini suatu tanda bahwa Syiah berkuassa di PBNU,” katanya. 

Selama ini PBNU dianggap sangat “toleran” terhadap Syiah. Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menghukumi Syiah paham terlarang, PBNU menganggap Syiah saudara. Padahal secara aqidah Syiah jelas bertentangan dengan paham Aswaja An-Nahdliah yang jadi dasar NU.

Meski Kiai Ahmad Baghowi tak menyebut siapa yang dimaksud elit PBNU “toleran” kepada Syiah, tapi tampaknya yang dituju adalah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj. “Saya melihat di TV PBNU menyatakan bahwa Syiah saudara kita,” kata Kiai Ahmad Baghowi.

Ia berharap kepada para Muktamirin agar membersihkan NU dari unsur Syiah. “Orang yang berbau Syiah jangan sampai diberi tempat dalam kepengurusan NU,” katanya serius. Karena itu ia minta agar semua pengurus NU hati-hati dalam memilih pemimpin NU dalam Muktamar yang akan datang. ”Kita harus menjaga NU. Jangan sampai orang yang berbau Syiah, Islam Liberal dan Wahabi, jadi pengurus PBNU,” pintanya. (hms)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Mobil Dihadang Petugas, Caketum PBNU Kiai As'ad Ali dan Kiai Asep Jalan Kaki ke Pembukaan Muktamar':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO