Bale Reren, Kuliner Baru di Yogya, Makan Sambil Belajar Kebudayaan, Khas Dimasak dengan Kayu

Bale Reren, Kuliner Baru di Yogya, Makan Sambil Belajar Kebudayaan, Khas Dimasak dengan Kayu Salah satu menu Rumah Makan Bale Rere di Yogyakarta. Foto: ist

YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com – Ini kreativias baru. Terutama bagi para peselancar . Bale Reren, rumah makan bernuansa jawa di Kalasan Sleman Yogyakarta yang dibuka hari ini, Sabtu (04/09), menawarkan nuansa dan kreativitas baru.

“Rumah Makan ini, saya konsep menjadi sarana untuk makan sambil belajar Jawa. Mulai dari filosofi dan suasana, arsitektur bangunan, jenis , fasilitas digital, hingga perpustakaan kami sediakan di rumah makan ini. Harapannya ketika pulang, para pengunjung tidak hanya membawa rasa kenyang, tapi juga ilmu dan inspirasi,” ungkap Prof. Sutrisna Wibawa dalam rilis yang diterima BANGSAONLINE.com pagi ini, Sabtu (4/8/2021).

Sutrisna Wibawa adalah Guru Besar di Pascasarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa yang hingga kini masih mengajar di kampus tersebut. Ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti.

Di kalangan netizen (pengguna internet) ia popular sebagai rektor milenial. Meski ia sudah purna sebagai rektor tapi ia punya obsesi agar pendidikan tersebarluaskan lewat berbagai media dan sarana.

Menurut Sutrisna, pelajaran budaya Jawa dapat dipetik masyarakat sejak menginjakkan kaki di pintu masuk restoran. Para pengunjung akan disuguhkan dengan artefak-artefak Jawa. Diiringi dengan kesejukan rumah makan yang berada di pinggir sawah dengan view pemandangan menghadap ke Gunung Merapi, belajar budaya Jawa sembari menyantap hidangan dikondisikan senyaman mungkin.

“Kesejukan dan artefak Jawa yang kami tampilkan, melambangkan filosofi yang sekaligus menjadi nama rumah makan ini: Bale Reren. Bale artinya balai, tempat berkumpul dan bercengkrama, dan Reren artinya beristirahat, leyeh-leyeh. Sudah menjadi budaya jawa ketika berkumpul dan beristirahat, tali silaturahim terjalin, pengetahuan bertambah,” ungkap Sutrisna.

Arsitektur rumah makan juga sangat kental budaya Jawa. Tidak seperti rumah makan bernuansa Jawa pada umumnya yang menggunakan joglo, Sutrisna memilih gazebo dan model limasan untuk rumah makan.