SURABAYA (BangsaOnline) - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof Dr H Abdul A’la M.Ag kemarin mengukuhkan Dr H Ali Mas’ud M.Ag, M.PdI sebagai guru besar ke-48, dalam bidang Tasawuf. A’la berharap, Prof Dr H Ali Mas’ud meneliti tasawuf dan kanuragan yang menjadi kajiannya, tidak hanya dalam konteks apakah termasuk puritanisme dan sinkritisme Islam, tetapi lebih luas lagi dengan melihat tasawuf dan kanuragan sebagai bagian dari khazanah Islam Nusantara.
Tema studi dan pidato pengukuhan Prof Dr H Ali Mas’ud tersebut juga mendapat apresiasi dari Ketua PWNU Jatim, KHA Hasan Mutawakkil Alallah yang hadir di acara pengukuhan kemarin. Bagi Kiai Mutawakkil, masalah tasawuf dan kanuragan merupakan kekayaan sendiri dalam khazanah dakwah Islamiyah yang dibawa oleh para wali songo.
BACA JUGA:
- Ning Lia Ajak Alumni UINSA Jaga Silaturahmi dan Almamater
- Serap Aspirasi di UINSA, Senator Ning Lia Dianggap Politikus yang Dekat dengan Mahasiswa
- Gubernur Khofifah Raih Penghargaan Tokoh Kontributif Pendidikan Islam Jawa Timur dari UINSA
- 3 Penerima Beasiswa Pemprov Raih Gelar Doktor, Gubernur Jatim: Investasi untuk Indonesia Emas 2045
“Ya teringat dengan sabda Mbah Wahhab (KH Abdul Wahhab Chasbullah Jombang): Kalau ingin menjadi pejuang agama itu harus pintar , kaya, dan jadug,” ungkap Kiai Mutawakkil. Bagi yang tidak masuk dalam komunitas santri akan bertanya, “Ini apa lagi?“
Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong Probolinggo itu mengakui, bahwa selain modal keilmuan, harta kekayaan, juga diperlukan jadug,atau kekebalan, atau kesaktian dan semisalnya yang menjadi bagian penting dalam dakwah Islam di Indonesia yang dibawa para walisongo.
Selanjutnya, pidato pengukuhan Prof Ali Mas’ud menurut Kiai Mutawakkil, memberi nilai lebih berupa rasa percaya diri bagi jam’iyah Nahdatul Ulama (NU) dalam mengusung konsepsi Islam Ahlisunnah Waljamaah bithariqi Nahdatul Ulama pada Muktamar NU mendatang di Jombang.
“Konsepsi Islam Ahlisunnah Waljamaah bi thoriqi Nahdatul Ulama atau dikenal Islam rahmatan lil alamin atau Islam Nusantara itu diusung agar diperjuangkan menjadi value kebudayaan dan peradaban dalam cakupan yang lebih luas di dunia Islam internasional di antara ideologi dan peradaban lainnya,” tegas Kiai Mutawakkil.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




