Rabu, 04 Agustus 2021 22:41

Tanya-Jawab: Uang Hasil Makelaran, Halalkah Komisinya?

Rabu, 26 Mei 2021 11:56 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Tanya-Jawab: Uang Hasil Makelaran, Halalkah Komisinya?
Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A

>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<


Pertanyaan:

Assalamualaikum Kiai. Saya mau bertanya soal jual beli tanah. Adik ipar saya mau jual tanah seharga 4 juta per meter. Dia suruh istri saya tawarkan ke pembeli, tapi ga ada yang mau. Satu ketika ada pembeli, tapi harganya minta kurang. Akhirnya adik ipar saya ketemu dengan pembeli itu itu sendiri. Tanah laku Rp 300 juta. Istri minta komisi tidak dikasih. Akhirnya istri saya pinjam dia yang Rp 5 juta.

BACA JUGA : 

Hati-hati dengan Nazar, Begini Konsekuensi Hukumnya Ketika Tak Bisa Memenuhi

Menarik Kembali Pernyataan Hibah yang Sudah Terucap, Bolehkah?

Menjual Daging atau Kulit Binatang Kurban, Bolehkah Kiai?

Saya Sudah Tidak Ada Hasrat Lagi dengan Suami, Harus Bagaimana?

Berapa komisi yang harusnya diterima istri saya? Apakah salah kalau saya tanyakan masalah komisi? Bagaimana jika hukumnya jadi perantara seperti itu, halalkah uang hasilnya? Berapa komisi yang harus diterima dari Rp 300 juta berdasarkan hukum Islam?

Terima kasih jawabannya. (Imam Hambali, Lewiliang Bogor)


Jawaban:

Waalaikummussalam wr.wb. Dalam Fikih persoalan yang bapak tanyakan disebut akad makelaran ('aqd al-samsarah). Saya belum paham, siapa yang menemukan pembeli terakhir? Calon pembeli yang berujung; tanah itu laku terjual. Jika adik ipar bapak menemukan pembeli sendiri (bukan istri bapak), maka istri bapak tidak punya peran dalam transaksi jual-beli tanah tersebut. Konsekuensinya istri bapak tidak memiliki hak untuk mendapatkan komisi.

Jika yang menemukan pembeli itu adalah istri bapak, kemudian ia mempertemukan secara langsung calon pembeli tersebut dengan adik ipar bapak sebagai pemilik tanah yang akan dijual, kemudian terjadi transaksi (laku Rp 300 juta), maka istri bapak hanya berperan "separuh peran makelar".

Mengapa? Karena definisi makelar dalam Fikih: "melakukan ucapan atau negosiasi yang membuat penjual dan pembeli itu yakin bahwa transaksi terjadi".

Dalam konteks pertanyaan bapak, tanah tersebut laku. Nah.... yang bernegosiasi itu siapa? Jika istri hanya menemukan calon pembeli dan tidak ikut proses transaksi, maka perannya hanya menemukan calon pembeli. Karena itu, istri bapak punya hak, yang dalam istilah dunia makelaran terkenal dengan istilah "uang dengar". Uang dengar ini hanya menunggu "kedermawanan penjual atau pembeli". Jadi, komisi seperti tersebut tidak mutlak istri bapak berhak. Jika dikasih, alhamdulillah, jika tidak, ya... ma syaAllah.

Secara keseluruhan, transaksi makelaran, --seperti yang telah saya kemukakan di atas-- dalam Fikih berkonotasi hukum MAKRUH (tidak disukai Allah). Maksudnya kadar halalnya remang-remang, agak halal begitu, atau... ya dekat ke haram. Untuk itu, saya anjurkan jika masih mungkin, TIDAK MENJADIKAN MAKELARAN SEBAGAI PROFESI KERJA. Wallahu a'lam.

Respons Keluhan Ojol Karena Terdampak Pandemi, ASC Foundation Bagikan Paket Sembako dan Uang Bensin
Kamis, 29 Juli 2021 13:40 WIB
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Muhammad Al Barra bersama Tim ASC Foundation-nya, telah menyalurkan paket sembako kepada para pedagang terdampak PPKM darurat di 12 kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Aksi sosial ini terus dilakukan Gus Barra. Kali i...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Rabu, 04 Agustus 2021 11:59 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*69. Qaala satajidunii in syaa-a allaahu shaabiran walaa a’shii laka amraanDia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.”70. ...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...