Tafsir Al-Kahfi 54-55: Manusia Banyak Alasan

Tafsir Al-Kahfi 54-55: Manusia Banyak Alasan Ilustrasi

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

54. Walaqad sharrafnaa fii haadzaa alqur-aani lilnnaasi min kulli matsalin wakaana al-insaanu aktsara syay-in jadalaan

Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah.

55. Wamaa mana’a alnnaasa an yu'minuu idz jaa-ahumu alhudaa wayastaghfiruu rabbahum illaa an ta'tiyahum sunnatu al-awwaliina aw ya'tiyahumu al’adzaabu qubulaan

Dan tidak ada (sesuatu pun) yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampunan kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat yang terdahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.

TAFSIR AKTUAL

Ayat sebelumnya berbicara soal keadaan sebenarnya para penyembah selain Tuhan ketika di akhirat nanti. Mereka diringkus di neraka, baik yang menyembah maupun yang disembah. Jika yang disembah itu berupa batu, maka berhala batu itu menjadi bahan bakar yang membakar penyembahnya. Jika berupa manusia, maka sesuai keadaan aslinya saat di dunia dulu.

Pertama, bila manusia yang disembah itu menerima dirinya sebagai sesembahan selain Allah SWT, maka dihajar juga di neraka bersama para pemujanya. Jika dia menolak disembah, tetapi penyembahnya sendiri yang ngotot dan ndablek, maka dia bebas dan hanya penyembahnya saja yang disiksa.

Contohnya nabi Isa A.S. yang dalam dialog dengan Tuhan, Isa menyatakan menolak dipertuhankan. Hanya mereka yang ngotot. “Sungguh sudah kami perintahkan hanya menyembah Allah SWT saja, titik, jangan yang lain. Tapi mereka tetap berlaku bodoh."

Begitu serunya Tuhan menginterograsi Isa anak Maryam tersebut hingga Isa tega berkata agak tegas kepada Tuhan. “Ya Tuhan, engkau sungguh maha tahu bahwa saya tidak pernah menyuruh mereka menyembah kami. Kenapa masih menanya-nanya kami begitu. Ampunilah kami dan ampunilah kaum kami..” (al-maidah:117-118).

SABAB NUZUL

Cukup varian sabab nuzul ayat kaji ini, antara lain:

Pertama, secara umum, ayat kaji ini turun mengenai tokoh-tokoh kafir yang banyak mendebat Nabi Muhammad SAW soal keimanan. Seperti al-Nadlr ibn al-Haris yang getol sekali mencari-cari kelemahan al-Qur’an. Maklum, di samping kaya, dia ilmuwan yang banyak pengalaman, utamanya sastra arab dan sering melakukan kajian ke luar negeri dan berdialog dengan pendeta-pendeta senior.

Juga Ubay ibn Khalaf, tokoh kharismatik yang dituakan di kabilahnya. Ya, tapi upaya mereka merecoki al-qur’an dan mengolok-olok nabi tidak menghasilkan apa-apa. Malah dihabisi oleh al-qur’an, diungkap rahasianya dan dimentalkan hujjahnya, sehingga mereka dipermalukan di hadapan kaumnya sendiri.

Kedua, secara khusus terkait pribadi Ali ibn Abi thalib yang mendalili Nabi Muhammad SAW, si mertua sendiri ketika beliau mengontrol agar Ali bangun dan shalat malam. Ceritanya begini:

Rasulullah SAW itu pribadi yang sangat perhatian kepada keluarga, tidak hanya urusan dunia, bahkan urusan akhirat lebih dipentingkan. Suatu malam, Nabi SAW mengetuk pintu rumah Ali ibn Abi Thalib yang kala itu sudah menjadi menantunya, sudah menjadi suami Fathimah R.A.: “Ala tushallun...”, apa kalian sudah shalat nak...?”. Begitu tanya Nabi dari depan pintu yang tertutup.

Ali ibn Abi Thalib paham betul kalau yang mengetuk pintu itu Rasululah SAW, lalu menjawab dari dalam rumah dengan suara yang bisa jelas terdengar oleh beliau: ”Ya Rasulallah, sesungguhnya diri kami (berdua bersama Fathimah) ada di genggaman tangan Tuhan. Jika Tuhan menghendaki kami bangun dan shalat malam, maka shalatlah kami”.

Simak berita selengkapnya ...