Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur dr. Herlin Ferliana saat menjadi keynote speech Edukasi Media dan Penyebaran Komunikasi Publik Peran Ayah dan Pencegahan Pneumonia pada Anak dengan Imunisasi.
(Anggota IDAI Jawa Timur dr. Dominicus Husada)
Adapun penyebarannya bisa lewat droplet atau percikan ludah. Ketika seseorang bicara, batuk, bersin, maupun meludah. Bisa juga melalui partikel penyebab infeksi yang melayang di udara.
Dominicus juga menambahkan, pneumonia menyerang bayi, anak-anak, sampai orang lanjut usia (lansia). Tentu, orang dengan sistem imun yang buruk akan lebih muda terkena Pneumonia.
“Jadi, pneumonia ini menempati urutan pertama penyebab kematian balita di seluruh dunia. Bergantian dengan penyakit diare yang juga penyebab kematian bagi balita,” jelasnya.
Bagi tiap keluarga, terutama untuk ayah yang menjadi dirigen di rumah harus bisa mengetahui ciri-ciri pneumonia. Biasanya diawali dengan panas, batuk-batuk, dan pilek. kemudian muncul sesak napas. Dalam situasi ini, katanya, pencegahan selalu lebih baik dari pada mengobati.
Apalagi tidak semua penyakit ada obatnya. Kalaupun tersedia, biaya dan sumber daya selalu lebih besar dibandingkan upaya pencegahan. “Upaya pencegahan itu bisa dilakukan lewat imunisasi pneumonia,” tambahnya.
Medical Manager PT Pfizer Indonesia Dr. Carolina Halim, juga menuturkan keberadaan ayah menjadi dirigen bagi keluarganya untuk bisa menjaga kesehatan. Berbagai keputusannya menjadi penting sebagai bekal sebuah keluarga mampu untuk menjaga kesehatan dengan baik.
Data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Jatim 2019 menyebutkan, meskipun Angka Kematian Bayi (AKB) di Jatim dari laporan rutin relatif sangat kecil, namun bila dihitung angka kematian absolutnya masih tinggi, yaitu sebanyak 3.875 bayi meninggal per tahun dan sebanyak 4.216 balita per tahun. Ini berarti dalam satu hari sebanyak 11 bayi meninggal dan 12 balita meninggal.
Sebenarnya upaya pencegahan kondisi ini sangat mungkin dilakukan, terlebih bila seorang ayah bisa membuat keputusan tepat dalam menentukan pilihan kesehatan bagi keluarganya. “Maka, potensi kematian ibu melahirkan dan bayinya akan dapat ditekan,” katanya.
Pihaknya menyadari, tak semua ayah memiliki edukasi yang cukup untuk bisa memahami kebutuhan kesehatan untuk keluarganya. Di tengah percepatan komunikasi saat ini, pihaknya ingin semua ayah bisa peduli dan memahami kebutuhan ini.
"Ayah diharapkan mampu mengambil keputusan penting, termasuk manajemen finansial untuk kesehatan keluarganya. Sehingga bisa menentukan masa depan anaknya. Keputusan tepat untuk memastikan mereka sehat dan tetap hidup di masa mendatang,” jelasnya.
Psikolog Universitas Airlangga Surabaya Dr. Nur Ainy Fardana menuturkan, peran penting ayah sebenarnya dimulai sejak bayi dalam kandungan. Dibutuhkan dukungan emosi dan perhatian ayah terhadap kondisi kehamilan ibu.
Saat ini, di era keterbukaan informasi maka seorang ayah perlu memahami fakta-fakta pneumonia pada anak. Perlunya sosialisasi dan edukasi yang tepat terkait risiko, pencegahan dan penanganan penyakit yang mengancam buah hatinya. “Seorang ayah perlu mengambil keputusan secara tepat dalam pencegahan dan penanganan pneumonia,” ucapnya. (mid/ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




