Minggu, 06 Desember 2020 07:44

​Lagu Mars 'Hari Merdeka' dan 'Hymne Syukur' Diciptakan Seorang Habib

Sabtu, 15 Agustus 2020 16:43 WIB
Editor: MMA
​Lagu Mars
Habib Husein Muthahar. foto: wikipedia

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Peran besar kiai, ulama dan habaib dalam perang kemerdekaan Repubik Indonesia (RI) makin terang benderang dalam sejarah. Padahal jejak perjuangan para tokoh Islam itu hampir tereduksi dari sejarah Indonesia akibat manipulasi penulis sejarah yang tak jujur.

Nah, pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-75 ini, BANGSAONLINE.COM, mengangkat salah satu sisi penting dalam lembaran sejarah Indonesia. Yaitu seorang pencipta lagu kesohor yang berlatar belakang habib.

Siapa lagi kalau bukan H Mutahar, pencipta lagu yang sangat popular: Mars Hari Merdeka dan Hymne Syukur. Hymne Syukur di-launching pada Januari 1945. Sedang Mars Hari Merdeka diperkenalkan ke publik pada 1946. Karya terakhir Habib Muthahar adalah Dirgahayu Indonesiaku. Lagu ini menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.

Sejak itu tahun 1945 dan 1946, terutama Mars Hari Merdeka dan Hymne Syukur, selalu menggema dalam acara-acara resmi kenegaraan RI, termasuk pada HUT Kemerdekaan. Sehingga kita – atau sebagian besar bangsa Indonesia – hafal lagu-lagu tersebut.

Memang, banyak orang mengira H Mutahar itu singkatan Haji Mutahar. Ternyata singkatan dari Habib Husein Muthahar. Jadi, Muthahar adalah marga sayyid dari Yaman.

Menurut Wikipedia, nama lengkap Habib Muthahar adalah Muhammad Hesein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar. Ia lahir di Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 1916. Habib Muthahar wafat di Jakarta pada 9 Juni 2004 para usia 87 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Habib Muthahar yang merupakan paman Habib Umar Mutohar, ulama di Semarang, itu dikenal sebagai komponis musik Indonesia. Terutama kategori kebangsaaan dan anak-anak.

Untuk lagu anak-anak, ciptaan Habib Muthahar yang popular adalah berjudul Gembira, Tepuk Tangan Silang-Silang, Mari Tepuk, Slamatlah, Jangan Putus Asa, Saat Berpisah, dan Hymne Pramuka.

Habib Muthahar sangat nasionalis dan anti komunis (PKI). Ia pernah menjadi ajudan presiden. Karena itu ia diberi tugas menyusun upacara pengibaran bendera ketika Republik Indonesia merayakan hari ulang tahun pertama kemerdekaan, 17 Agustus 1946. Menurut dia, pengibaran bendera sebaiknya dilakukan para pemuda yang mewakili daerah-daerah Indonesia. Ia lalu memilih lima pemuda yang berdomisili di Yogyakarta (tiga laki-laki dan dua perempuan) sebagai wakil daerah mereka

Masih menurut Wikipedia, pada tahun 1967, Habib Muthahar diangkat sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Presiden Soeharto meminta Habib Muthahar menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka.

Tata cara pengibaran Bendera Pusaka disusunnya untuk dikibarkan oleh satu pasukan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera; kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. (MMA)  

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Selasa, 01 Desember 2020 16:52 WIB
PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com – Meletusnya Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, tidak mengakibatkan kenaikan material vulkanik di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo.Namun demikian, status Gunung Bromo tetap level II atau waspada. Sehingga pengunju...
Sabtu, 28 November 2020 22:34 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Nahdlatul Ulama (NU) punya khasanah (bahasa) baru: Neo Khawarij NU. Istilah seram ini diintroduksi KH Imam Jazuli, LC, MA, untuk mestigmatisasi kelompok kritis NU: Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU). Khawarij ...
Rabu, 02 Desember 2020 21:44 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*39. walawlaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-a allaahu laa quwwata illaa biallaahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaanDan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, ...
Kamis, 03 Desember 2020 15:46 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...