Kamis, 17 Oktober 2019 16:05

60 Pabrik Gula di Jatim Terancam Bangkrut

Selasa, 13 Januari 2015 00:40 WIB
Editor: Revol
Wartawan: Diday
60 Pabrik Gula di Jatim Terancam Bangkrut
Suasana Hearing Komisi B DPRD Jawa Timur dengan petani tebu, Disbun, Disdag, PTPN X dan XI serta AGRI, kemarin (12/1). foto: Diday/BangsaOnline

SURABAYA (BangsaOnline) - Puluhan pabrik gula yang ada di Jawa Timur diambang kebangkrutan. Terlebih jika pemerintah tidak segera mengambil keputusan untuk melindungi petani tebu. Mengingat saat ini gula petani yang menumpuk di sejumlah gudang milik PTPN X dan XI hingga mencapai 800 ribu ton. Namun gula-gula tidak dapat terserap di sejumlah wilayah di Indonesia dikarenakan merembesnya gula impor rafinasi.

Direktur Produksi PTPN XI Jatim, Burhan Chotib menegaskan saat ini gula petani telah menumpuk di sejumlah gudang milik PTPN dan tidak dapat terserap dibeberapa wilayah Indonesia Timur yang selama ini menjadi pelanggan gula Jatim. Ini tak lain disebabkan merembesnya gula rafinasi yang seharusnya untuk disuplai pada perusahaan makanan dan minuman (mamin).

‘’Kalau kondisi ini tetap dibiarkan oleh pemerintah, maka dapat dipastikan ada sekitar 60 pabrik gula yang ada di Jatim empat tahun mendatang akan gulung tikar akibat mengalami kebangkrutan. Ini karena pihak bank menolak memberikan kredit kepada petani, dan disatu sisi petani tidak mendapat uang karena gulanya tidak terjual di pasaran,’’ tegasnya saat hearing bersama Komisi B DPRD Jatim bersama para petani tebu di Jatim, Senin (12/1).

Terpisah, petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI), Iswahyudi menuding jika ada oknum pengurus APTRI yang sengaja bermain mata dengan para importer gula rafinasi. Dimana oknum tersebut menyetujui adanya impor gula dengan imbalan Rp 7 miliar sebagai dana pembinaan bagi petani.

‘’Apa yang terjadi ini juga tak terlepas adanya permainan yang dilakukan oleh pengurus APTRI yang mencoba menjual mandat dari kami untuk diperjualbelikan ke sejumlah importer gula rafinasi dengan kompensasi dana pembinaan sejumlah Rp 7 miliar. Jujur kami disini tidak butuh itu semua. Yang kami inginkan bagaimana gula yang kini menumpuk di gudang bisa laku di pasaran,’’ tegas Iswahyudi dengan intonasi tinggi.

Sementara itu, Anggota DPRD Jatim, Yusuf Rohana menegaskan terkait oknum APTRI, dewan tidak bisa ikut campur, karena itu menyangkut internal asosiasi dan yang berhak menindaklanjuti adalah APTRI sendiri. Sedangkan terkait impor gula, Komisi DPRD Jatim akan meminta ke pusat agar bongkar muat impor gula ada di jalur merah seperti beras.

‘’Dimana pada jalur merah adalah jalur khusus yang pengawasannya sangat ketat. Dengan begitu gula impor tidak bisa merembes ke Jatim,’’ tegas politikus asal PKS Jatim ini.
Sedang, anggota Komisi B DPRD Jatim yang lain, Subianto menegaskan Komisi B akan memperjuangkan gula petani dibeli oleh Pemerintah pusat, karena Pemerintah pusat harus bertanggung jawab atas nasib petani yang gulanya tidak terserap pasar. Akibat adanya impor gula.
Disisi lain pihaknya akan meminta moratorium gula impor yang memang sangat menyengsarakan petani tebu.
‘’Dalam waktu dekat ini kami akan segera mendesak pemerintah untuk mengeluarkan moratorium atas gula impor berupa rafinasi. Terbukti saat ini konsumsi gula rafinasi yang seharusnya digunakan untuk mamin ternyata sudah merembes untuk konsumsi masyarakat. Akibatnya gula lokal tidak terserap di pasaran,’’papar pollitisi asal Demokrat.
Terpisah, Anggota Komisi B DPRD Jatim, Pranaya Yuda mengatakan penumpukan gula yang terjadi di pabrik Jawa Timur dan Indonesia ini merupakan tanggung Jawab AGRI (Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia). Dimana AGRI telah membuat perjanjian dengan kementerian perdagangan untuk membeli gula lokal ini sudah mulai tahun 2014 dengan harga 8.500 per kilogram.
“Perjanjian tersebut saat ini tidak lagi dijalankan oleh AGRI dalam membeli hasil gula petani tebu sehingga membuat gula petani tidak terserap", ujarnya.

Oleh karena itu dalam waktu dekat pihaknya bersama seluruh anggota Komisi B DPRD Jatim akan mendatangi AGRI untuk menanyakan tentang regulasi yang telah dibuat AGRI dan Kementerian perdagangan dalam hal membeli produk gula para petani kenapa perjanjian tersebut tidak jalan lagi.

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Minggu, 13 Oktober 2019 23:15 WIB
BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur memiliki wisata unik berbasis minyak dan gas bumi (Migas), tepatnya di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro.Di desa ini terdapat ratusan sumur minyak tua peninggal...
Rabu, 16 Oktober 2019 11:21 WIB
Oleh: Khariri Makmun*Fenomena semangat keberagamaan di tanah air semakin meningkat, hal itu ditandai dengan maraknya gelombang hijrah baik di kalangan artis, publik figur, maupun orang awam. Masifnya dakwah di media sosial disambut baik oleh netizen ...
Minggu, 06 Oktober 2019 22:56 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*70. Walaqad karramnaa banii aadama wahamalnaahum fii albarri waalbahri warazaqnaahum mina alththhayyibaati wafadhdhalnaahum ‘alaa katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan.Dan sungguh, Kami telah memuliakan ...
Minggu, 22 September 2019 14:08 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...