Kamis, 24 Juni 2021 18:23

Tanggapan Syuriah PBNU soal Usul Penulis Buku Ahok agar MUI Beri Fatwa Boleh Tak Puasa saat Corona

Jumat, 17 April 2020 15:04 WIB
Editor: MA
Tanggapan Syuriah PBNU soal Usul Penulis Buku Ahok agar MUI Beri Fatwa Boleh Tak Puasa saat Corona
KH Afifuddin Muhajir. foto: ist/bangsaonline.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Rudi Valinka, penulis buku Man Called Ahok mengusulkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama RI (Kemenag)  mengeluarkan fatwa orang boleh tidak puasa pada bulan Ramadan karena kondisi Covid-19 .

“Mumpung lagi libur, gue punya usul seandainya bulan puasa yang akan tiba 17 hari lagi, kemenag dan MUI buat fatwa utk memperbolehkan orang tidak puasa,” tulis Rudi Valinka di akun pribadinya, @kurawa.

Menurut dia, puasa bisa digantikan dengan membayar denda dan memberi makan untuk orang miskin. “Ini cara paling ideal untuk kondisi sekarang,” tulis pendukung berat Ahok itu.

BACA JUGA : 

​Forkopimda Rakor di Makodam: Merangkul Relawan Melawan Covid-19 di Bangkalan

Sebar Berita Hoaks, Petugas Puskesmas di Jombang Akhirnya Berikan Klarifikasi

Konvalesen Jadi Barang Langka, Antrean Panjang, Dana Mengering di mana-mana

Selama Pandemi, 115 Anak di Kabupaten Blitar Terpapar Covid-19

Bagaimana tanggapan Wakil Rais Syuriah PBNU KH Afifudddin Muhajir? Kiai alim fiqh itu menegaskan bahwa puasa beda dengan salat Jumat. “Menurut pemahaman saya sampai saat ini, bahwa puasa tidak sama dengan salat jumat dan jamaah. Tidak ada hubungan antara penyebaran virus Corona dengan pelaksanaan puasa Ramadan,” kata KH Afifuddin Muhajir kepada BANGSAONLINE.COM, Jumat (17/4/2020).

“Saya sepakat dengan fatwa para ulama bahwa potensi penyebaran virus Corona itu menjadi udzur atau menjadi alasan bagi kaum muslimin untuk meninggalkan salat jumat dan para jemaah dengan jumlah yang besar, terutama daerah rawan, tempat yang sudah dinyatakan sebagai zona merah,” kata Kiai Afifuddin Muhajir.

Tapi untuk puasa Ramadan beda. Karena, tegas Kiai Afifuddin, puasa adalah mas’alatul a’yan (persoalan individu). “Setiap muslim bisa melaksanakan puasa di tempat masing-masing tanpa harus berkumpul di tempat tertentu bersama orang lain,” kata penulis kitab Fathu Al-Mujib Al-Qorib itu.

Justru, kata Kiai Afifuddin, yang menjadi acuan wajib dan tidak wajib puasa adalah al-qudratu wal masyaqqah. Yaitu kemampuan melaksanakan puasa dan perasaan berat untuk melaksanakan puasa.

“Jadi orang yang punya kemampuan berpuasa, (maka) wajib melaksanakan puasa,” katanya. Sedangkan orang yang tak memiliki kemampuan atau merasa sangat berat melaksanakan puasa, maka dibolehkan tidak berpuasa.

(Rudi Valinka. foto: kalteng pos.co)

Menurut kiai santun ini, dalam kitab-kitab syariat ada beberapa hal yang dikategorikan sebagai alasan (udzur) boleh tidak puasa. “Karena hal itu merupakan indikasi masyaqqah, meskipun belum benar-benar riil sebagai masyaqqah,” tegas Wakil pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur itu.

Ia mencontohkan sakit. Para ulama berbeda pendapat tentang ukuran sakit yang memperbolehkan seseorang tidak puasa. Ia juga mencontohkan tentang safar atau bepergian. Menurut dia, ada sebagian orang tidak merasa berat puasa saat bepergian. Tapi ada nash khusus - baik dalam al-Quran maupun haidts - bahwa safar itu bisa menjadi alasan bagi muslim untuk tidak puasa.

Begitu juga dengan pekerja berat. Apakah pekerja berat boleh menigggalkan puasa. Menurut dia, tidak bisa dijawab boleh puasa atau boleh tidak berpuasa. “Tidak bisa dijawab wajib puasa atau boleh tidak puasa,” katanya. Tapi tergantung kepada individu-individu. Meski ada orang pekerjaannya berat, jika ia mampu berpuasa, maka wajib berpuasa.

Yang sering dipermasalahkan, kata Kiai Afifuddin,  adalah puasa kaum muslimin yang hidup di daerah yang waktu siangnya cukup panjang sampai 20 jam. Apakah mereka boleh tidak puasa? Tergantung individu-individu. Bagi mereka yang mampu puasa, maka wajib puasa. Tapi bagi mereka yang tak sanggup puasa, tidak wajib puasa. 

"Artinya, pada waktu malam hari semua orang wajib berniat pusa. Tapi pada saat siang tergantung masing-masing orang. Bagi yang mampu berpuasa maka diwajibkan melanjutkan puasa. Tapi bagi yang tak sanggup berpuasa boleh berbuka," katanya.

Kiai Afifuddin Muhajir mengutip Surat Al-Baqarah ayat 184: wa’alalladzina yuthiqunahu fidyatun tho’amu miskinin (Dan wajib bagi orang yang berat melaksanakan puasa membayar fidyah memberi makan orang miskin).

Kiai Afifuddin menjelaskan bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini mengandung pengertian bahwa orang-orang yang mampu melaksanakan puasa boleh memilih: puasa atau mengganti dengan bayar fidyah. “Tapi ‘pilihan’ yang tertuang dalam ayat ini kemudian dimanshuh, sudah dianulir dengan firman Allah Ta'ala yang lain yaitu: faman syahida minkumus-syahra fal-ayasumhu. Ayat ini mengandung pengertian, tidak ada pilihan lain bagi orang yang hadir dalam bulan Ramadan kecuali harus puasa. Tentu bagi mereka yang mampu,”katanya.

Sebagian ulama lain, kata Kiai Afifuddin Muhajir, berpendapat bahwa dalam ayat waalalladzina yuthiqunahu fidyatun tho’amu miskinin itu ada huruf laa yang dibuang. “Aslinya waalalladzina laa-yuthiqunahu fidyatun tho’amu miskinin. Artinya: Dan wajib bagi orang yang tidak bisa melaksanakan puasa untuk membayar fidyah, memberi makan orang miskin,” kata Kiai Afifuddin Muhajir.

Lalu bagaimana dengan usulan boleh tak puasa tapi bayar fidyah agar bisa terkumpul dana banyak untuk menangani covid-19? “Silakan pengumpulan dana dilakukan, tapi bukan sebagai fidyah yang menggantikan puasa. Santunan untuk mencukupi kebutuhan kaum papa menjadi tanggungjawab orang-orang kaya. Dan negara harus menjadi fasilitator yang mengayomi,” kata Kiai Afifuddin Muhajir. (MA)

Pasuruan Zona Merah, Vaksinasi Digencarkan
Selasa, 22 Juni 2021 23:42 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Polres Pasuruan Menggelar Vaksinasi Massal Selasa Siang Tadi(22/06/2021). Vaksinasi Ini Dilakukan Di Alam Terbuka, Tepatnya Di Wilayah Prigen, Kabupaten Pasuruan. Warga Terlihat Antusias Mengantre Untuk Mengikuti Vaksi...
Sabtu, 19 Juni 2021 18:17 WIB
JEMBER, BANGSAONLINE.com - Dalam kondisi pandemi, Pemerintah Kabupaten Jember tetap berupaya menggeliatkan sektor pariwisata meski dengan menerapkan prosedur pencegahan Covid-19 yang ketat.Salah satunya, dengan menggelar Jelajah Wisata and Funcamp 20...
Kamis, 24 Juni 2021 07:56 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Sejak Covid-19 melonjak lagi secara drastis, penanganan Covid-19 tampak kewalahan. Vaksinasi belum maksimal. Alternatif lain belum mendapat izin. Bahkan konvalesen kini jadi barang langka.Benarkah? Silakan simak tuli...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Sabtu, 19 Juni 2021 15:30 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&l...