Senin, 30 Maret 2020 22:47

Tanya-Jawab Islam: Beratnya Mahar Seperangkat Alat Salat

Sabtu, 07 Maret 2020 10:30 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Tanya-Jawab Islam: Beratnya Mahar Seperangkat Alat Salat
Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA.

>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<<

Pertanyaan:

Beratnya Mahar Seperangkat Alat Salat

Assalamualaikum. Ustadz izin bertanya, jika saya tidak mau memberi mahar seperangkat alat salat, karena tanggung jawab yang cukup berat, dan jika tidak dijalankan mahar tersebut bagaimana? Sedangkan saya tidak mau memberi mahar seperangkat alat salat, tetapi calonnya meminta harus pakai mahar seperangkat alat salat. Apakah saya harus mengikuti permintaan calon istri saya dengan terpaksa? Atau saya harus mengikuti hati saya yang tidak memakai mahar seperangkat alat salat? Mohon jawabanya ustadz, terima kasih.

Waalaikumsalam. (Sopyan Firdaus <firdaussopyan1@gmail.com)

Jawab:

Akad pernikahan itu seperti akad jual beli, maka pembeli tidak boleh menentukan harga sendiri tanpa keridhaan dari sang penjual. Harga di sini ibarat (tapi tidak sama) mahar kalau dalam pernikahan. Mahar adalah hak wanita (calon istri) yang harus dipenuhi oleh sang calon suami. Jadi mahar adalah kewajiban calon suami. Hal ini sebagaimana firman Allah:

“Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. an-Nisa: 4)

Dalam ayat di atas menjelaskan tentang kewajiban laki-laki membayar mahar dengan penuh kerelaan dan tidak boleh merasa terpaksa. Pada dasarnya ia sedang bertransaksi untuk mencapai kesepakatan bukan paksaan.

Pertanyaannya adalah siapa yang berhak menentukan mahar? Ada beberapa pandangan dalam masalah ini. Pertama, wanita atau calon istri itulah yang paling berhak menentukan jenis dan besarnya mahar. Pandangan ini didasarkan pada ayat di atas, karena dhamir (kata ganti) kata kerja (fi’il) itu kembali kepada para wanita, maka merekalah yang berhak menentukan. Dalil kedua adalah hadis Rasul yang beliau sabdakan:

“Di antara kebaikan wanita adalah mereka yang memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (Hr. Ahmad : 23957). Maksud dari memudahkan adalah tidak menyulitkan maharnya yang bisa berarti tidak memahalkan dan memurahkannya.

Kedua, orang tua wanita inilah yang paling berhak menentukan maharnya. Sebab wanita ini sebelum menikah adalah milik walinya, maka sang pemiliklah yang paling berhak menentukan jenis dan besaran mahar tersebut. Jika wanita itu sudah sepakat dengan mahar tertentu dan walinya belum, maka belum bisa disepakati, sebab wali masih menjadi sang pemilik, maka ia berhak menentukan.

Ketiga, kesepakatan masyarakat, bagi sebagian masyarakat mahar itu sudah diketahui secara adat, yang kemudian disebut dengan “mahar mistl”, mahar yang sudah disepakati pada umumnya oleh masyarakat di sana. Dan kesepakatan bersama ini jika diridhai oleh wali dan wanita tersebut, maka mahar itu menjadi boleh digunakan, baik jenis dan besarannya, seperti emas sekian gram atau uang sekian juta.

Namun, bagi masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, hampir tidak ditemukan mahar misil itu. Yang ada kesepakatan adat adalah hantaran sebelum menikah dan saat menikah. Oleh sebab itu, sebaiknya Anda ikut dan nurut saja apa kemauan dari pihak calon istri, baik calon istri itu sendiri atau orang tua. Jika Anda diminta mahar seperangkat alat salat, maka wajib Anda tunaikan, jangan melanggar, atau lebih baik anda tidak menikahinya sama sekali. Hukum ini memang harus tegas disampaikan.

Adapun kepercayaan kalau mahar ‘seperangkat alat shalat itu’ tanggung jawabnya besar dan kalau yang lain tidak, maka Anda pilih yang lain saja, itu adalah pandangan fiqih hoax. Tidak ada landasan dalil sama sekali. Mahar apapun yang Anda bayarkan, Anda tetap mendapatkan tanggung jawab dunia akhirat istri Anda itu, harus membahagiakan di dunia dan di akhirat.

Ya harus tetap shalat, baca Al-Quran dan semua kewajiban lainnya. Maka, pernikahan itu tidak dilihat maharnya, tapi dilihat akad perjanjian agung, perpindahan seorang wanita dari tanggung jawab orang tuanya menjadi tanggung jawab Anda. Maka itu inti dari pernikahan.

Saran saya, Anda mulai sekrang sudah harus memperbanyak menuntut ilmu agama dengan mengaji pada para kyai dan ustadz, sehingga terhindar dari pandangan-pandangan yang tidak benar tentang agama Islam. Wallahu a’lam.

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Sabtu, 28 Maret 2020 14:13 WIB
Oleh: M Cholil NafisSaat saya wawancara di TV atau radio banyak pertanyaan tentang hadits yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan jum’atan tiga kali berturut-turut jadi keras hatinya bahkan ada yang menyebut kafir dan wajib bersyahadat kemba...
Sabtu, 28 Maret 2020 23:26 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*85. Wayas-aluunaka ‘ani alrruuhi quli alrruuhu min amri rabbii wamaa uutiitum mina al’ilmi illaa qaliilaan.Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku,...
Jumat, 20 Maret 2020 00:31 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...