Jahe Putih alias Jahe Emprit atau biasa disebut Jahe Sunti. foto: korangratis
Menurut Agung, jahe emprit asal Trenggalek itu juga telah melalui uji lab yang dilakukan si pembeli di Amerika. Hasilnya, jahe asal petani Trenggalek dinyatakan lolos uji lab karena tidak memiliki kandungan kimia dan tidak memiliki parasit atau jamur.
Hal ini dikarenakan cara penanaman dan perabukan jahe asal petani Trenggalek ini tidak menggunakan obat-obatan kimia seperti pestisida. Hanya menggunakan pupuk organik.
Metode penanaman seperti itulah yang membuat buyer asal negeri Paman Sam ini tertarik untuk membeli berapa pun hasil produksi jahe yang ada di Kabupaten Trenggalek.
"Nah, nanti di bulan Mei atau Juni beliaunya (Franky) ini akan datang ke Trenggalek. Itu dealnya seperti itu," ungkapnya.
Di sampaikan oleh Agung, selain diekspor ke Amerika, produksi jahe emprit asal Trenggalek ini juga akan dikirim ke Singapura dan negara negara Amerika Latin.
"Jadi selain diekspor ke Amerika, pak Franky itu bilang juga akan diekspor ke Singapura dan Amerika Latin," terangnya.
Agung menjelaskan, luas lahan rempah-rempah di seluruh Kabupaten Trenggalek kurang lebih 3.500 hektare. Sementara khusus tanaman jahe, memiliki luas lahan 1.000 hektare lebih. Adapun hasil produksi jahe di tahun 2019 yang lalu tercatat 2.359 ton. (man/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




