​Desa Sade Lombok, Menjaga Keseimbangan Tradisi dan Agama

​Desa Sade Lombok, Menjaga Keseimbangan Tradisi dan Agama Atraksi Tarian Adat Peresean yang merupakan tarian perang dari Desa Sade. Ini atraksi yang paling disukai turis baik lokal maupun mancanegara. foto: DIDI ROSADI/ BANGSAONLINE

Bapak dua anak yang menikah saat usia 17 tahun ini mengungkapkan keunikan lain yang merupakan tradisi di desanya. Yaitu, rumah di Sade jumlahnya 150 unit yang dihuni oleh 150 kepala keluarga. Jumlah ini tidak akan berkurang atau bertambah.

Sementara jumlah total penduduk sekitar 700 jiwa. Mereka pun saling kenal dan tahu nama tiap penduduk. Hal itu karena kuatnya kekerabatan di Sade. Sebab, penduduk Sade tidak menikah dengan penduduk di luar desa. Hingga wajar kalau mereka saling mengenal satu sama lain.

"Meskipun tidak dilarang, tapi sampai saat ini belum ada penduduk Sade yang menikah dengan orang di luar desa," imbuh Talim.

Soal mata pencaharian, sejatinya penduduk Sade itu adalah petani. Namun, mereka hanya bisa bertani setahun sekali. Sebab belum ada sistem irigasi sehingga masih bergantung pada air hujan.

Bila sedang tidak bertani, penduduk Sade mencari nafkah dari menjual kerajinan tangan dan kain tenun kepada turis yang berkunjung ke desa. Selain itu, mereka juga menampilkan atraksi kepada para turis. Nantinya secara sukarela para turis akan memberikan uang sebagai bentuk apresiasi telah dihibur dengan atraksi khas Sade.

"Yang terkenal itu tari Paresean, Tari Gendang Beleq dan Tari Amaq Temenges. Semuanya khas Sade dan dibawakan oleh orang Sade," pungkasnya. (mdr/ian)