?Eko Ari Bawanto, pendiri Padepokan Seni Dewi Sekartaji, bersama anak didiknya saat tampil di Banyuwangi Etno Carnival. foto:rosihan c anwar/bangsaonline
BANYUWANGI (bangsaonline)
Ketika perhelatan Banyuwangi Etno Carnival digelar, di pojokan alun-alun, yang menjadi pintu masuk para undangan, sekelompok anak muda seusia belasan tahun, memainkan gamelan khas Banyuwangi. Dialah seniman-seniman cilik dari Padepokan Seni Dewi Sekartaji dari Desa Curah Pacul, Kecamatan Muncar.
BACA JUGA:
- Remaja yang Dilaporkan Hilang di Puncak Ijen, Ternyata Ditinggal Temannya
- Gagal Nyalip Truk, Motor yang Dikemudikan Ibu di Banyuwangi Alami Laka hingga Tewaskan 1 Anak
- Mayat Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan di Bendungan Sungai Baru Banyuwangi
- Heboh Kambing Lahir Bermata Satu di Banyuwangi, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Mereka memang hampir rutin dilibatkan dalam acara-acara budaya di Banyuwangi. Bahkan, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kerap mengundang secara pribadi untuk tampil di acara-acara pribadi atau kedinasan.
Adalah Eko Ari Bawanto, sarjana lulusan Sekolah Tinggi Kerawitan Wilwatikta (STKW) jurusan seni tari, tahun 2009, memutuskan pulang ke daerah, di Muncar.
Dia lalu mengumpulkan siswa-siswa sekolah dasar, dan mendidiknya. Mulai dari tari dan gamelan Banyuwangian. Untuk pelatih gamelan dia bekerja sama dengan Sutaji, sarjana lulusan Unesa.
“Awalnya, saya tak mempunyai peralatan. Kami hanya berlatih seadanya. Lalu, saya mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit tabungan untuk melengkapi alat. Hingga akhirnya kita mendapat bantuan dari Pemkab Banyuwangi. Kini, alat kami sudah lengkap,” kata Eko,yang kini menjadi staf Kebudayaan di Dinas Pariwisata Pemkab Banyuwangi ini.






