Selasa, 17 September 2019 00:17

Tafsir Al-Isra' 60: Dakwah Campur Ngumbar Nafsu

Sabtu, 07 September 2019 18:09 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Isra
Ilustrasi

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag

60. wa-idz qulnaa laka inna rabbaka ahatha bialnnaasi wamaa ja’alnaa alrru'yaa allatii araynaaka illaa fitnatan lilnnaasi waalsysyajarata almal’uunata fii alqur-aani wanukhawwifuhum famaa yaziiduhum illaa thughyaanan kabiiraan

Dan (ingatlah) ketika Kami wahyukan kepadamu, “Sungguh, (ilmu) Tuhanmu meliputi seluruh manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon yang terkutuk (zaqqum) dalam Al-Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.


TAFSIR AKTUAL

Bisa dipetik pelajaran, dua ayat studi terakhir ini, dalam pesannya sama-sama menggunakan kata takhwif, nada warning, atau ancaman ditekankan, yakni: "wamaa nursilu bial-aayaati illaa takhwiifaan" (59) dan "wanukhawwifuhum famaa yaziiduhum illaa thughyaanan kabiiraan" (60).

Justru pada al-Taubah: 125 menunjuk, bahwa arah dakwah, materinya harusnya lebih menonjolkan sisi "indzar atau li yundziru qaumahum" (memberi peringatan serius) dan setelah didakwahi, obyek dakwah berubah menjadi merinding, ketakutan akan siksa Allah kelak (la'allahum yahdzarun).

Jadi, dakwah yang membuat orang lebih bisa menahan diri dari berbuat jahat, menahan nafsu, menghindari maksiat jauh lebih diutamakan. Di sini kekurangan kita. Jadinya, umat islam negeri ini mudah "munafik". Untuk amal baik dan ibadah ritual dan seremonial, sungguh luar biasa dan serba "kubro", raksasa.

Shalawatan Kubra, Istighatsah Kubra, Tahlil Akbar, Khataman Seribu Majelis, umroh rombongan sangat hebat, dan nomor satu di dunia. Tapi mencegah jogetan maksiat, goyang erotis di samping rumah sendiri tidak dilakukan. Artis jorok dan bergoyang heboh di alun-alun depan masjid agung biasa terselenggara saat agustusan.

Alasannya, lalgi-lagi hak asasi, urusan pribadi, tidak mengganggu orang, kebebasan, dll. Baru nanti jika ada tawuran karena senggolan atau rebutan cewek saat joget, atau ada korban, pak polisi tampil dan turun tangan sesuai gayanya. Kasep. Dan syariah Islam tidak demikian. Sesuai arahan ayat ini, harus "takhwif" dan dicegah sejak dini. Jika ini dilakukan, risiko bisa diminimalisir, pasti.

Untuk itu, tidak main-main penulis menulis judul tulisan ini, bahwa ada dakwah itu ada yang campur mengumbar nafsu. Ya, karena dari satu sisi memang jelas baca shalawat, berdakwah, tapi dari sisi lain juga bersenang-senang, bisa bergoyang, yel yel, dan fresh. Sisi positifnya jelas ada, yaitu guyub, kemriyek, terhibur, membludak, damai. Tapi efek taqwanya apa? Kurang jelas?

Tidak ada bukti signifikan, seseorang bertobat habis nonton dangdutan Nada dan Dakwahnya Oma Irama, atau habis ikut Indonesia bershalawat, Surabaya Istighatsah, lalu jamaah shubuhnya meningkat, lalu berhenti berjudi, lalu berhenti korupsi. Yang ada, ya biasa-biasa saja, pancet.

Kenapa ayat ini menekankan dakwah "takhwif"? Ya, karena dakwah dengan materi takhwif itu berisiko, berat dan dicemooh orang banyak. Coba saja anda berdakwah dengan materi takhwif, bahwa membuka aurat di hadapan umum, nanti di alam kubur auratnya itu akan dibakar dengan api neraka. Rambut terurai, pinggul bergoyang, jemari pemetik gitar, penabuh alat musik maksiat akan diminta pertanggungjawaban masing-masing di hadapan Allah SWT nanti. Lalu perhatikan respons publik.

Sudah bisa dipastikan, tidak akan ada ustadz, apalagi ustadz televisi, ustadz entertainment yang berani kenceng berdakwah demikian. Karena risikonya tidak laku, tidak dipakai lagi, ustadznya dianggap radikal, kasar, tidak toleran, tidak santun, tidak menyejukkan dan lain-lain. Ustadznya masih terus menuruti nafsu pendengarnya. Atau justru ustadznya sendiri yang menciptakan demikian agar dirinya lebih laku. Sampai kapan?

Sekali lagi, kenapa dakwah dalam pagelaran, di pentas seni, pakai musik kolosal, dalam shalawat banjarian, gamelan, gendingan, itu marak dan laris manis? Jawabnya, karena campur ngumbar nafsu, bisa terhibur dan enjoy. Apa ini dilarang? Oh, tidak. Cuma kurang selaras dengan pesan ayat kaji ini. Hadana Allah.

Ingatlah, bahwa menghindar dari api neraka itu sangat diutamakan ketimbang memproyeksikan diri bisa masuk surga. Karena, dengan sama sekali tidak tersentuh api neraka, maka - setidaknya - seseorang pasti tidak sengsara di akhirat nanti, sekaligus sangat berpeluang masuk surga karea fadlal-Nya. Tidak sebaliknya. Orang yang masuk surga tidak mesti bebas neraka sebelumnya. Bisa jadi disiksa dulu sesuai kadar dosanya. 

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Jumat, 23 Agustus 2019 22:22 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Masyarakat Kabupaten Ngawi dan sekitarnya kini sedang gandrung dengan destinasi wisata baru di Desa Bringin, Kecamatan Bringin, Ngawi. Di mana, salah satu obyek wisata yang dikenal dengan nama 'Jurang Krowak' banyak men...
Rabu, 11 September 2019 18:57 WIB
Oleh: Em Mas'ud Adnan*Indonesia – terutama Jawa Timur – memang sepotong taman surga. Tanah subur, pohon rimbun, air mengalir dan gunung bertebaran menghiasi alam. Indah luar biasa. Masih ditambah satu anugerah lagi: keajaiban alam!Lihatlah blue...
Jumat, 13 September 2019 23:27 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag61. Wa-idz qulnaa lilmalaa-ikati usjuduu li-aadama fasajaduu illaa ibliisa qaala a-asjudu liman khalaqta thiinaanDan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu semua kepada Adam,” ...
Sabtu, 17 Agustus 2019 11:29 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...