Selasa, 14 Juli 2020 16:04

Tafsir Al-Isra' 57: Yang Disembah Malah Menyembah Allah SWT

Sabtu, 06 Juli 2019 15:08 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Isra
Ilustrasi

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag

57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraan

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.

TAFSIR AKTUAL

Kebodohan orang arab jahiliah ini lucu dan menggelikan. Abdullah ibn Mas'ud meriwayatkan latar belakang ayat kaji ini, bahwa ada sekelompok orang arab jahiliah jaman dulu yang menyembah kawanan Jin tertentu. Mereka meyakini bahwa Jin tersebut bisa memberi manfaat dan bisa pula menyebabkan madarat. Maka mereka amat ketakutan dan mengadakan sesajen khusus, di tempat khusus dan dengan acara khusus.

Mereka tidak tahu, kalau Jin sesembahan itu sudah memeluk agama islam dan mengaji kepada Rasulullah SAW, mendengarkan bacaan al-Qur'an, menyimak al-Hadis dan segala pitutur kebajikan. Jin yang disembah itu juga tidak memberitahu kepada pemujanya dan tidak pula menyuruh mereka berhenti.

Lalu ayat ini turun sebagai pemberitaan sekaligus teguran. "Ulaa-ika alladziina yad’uuna... dst.". Jin-Jin yang mereka sembah, sesungguhnya sudah menyadari kesalahannya, yakni bereksyen sebagai Tuhan yang sakti. Lalu mereka bertobat memohon kepada Tuhan mereka agar dianugerahi al-wasilah dan al-rahmah. Selanjutnya di akhirat kelak bisa terhindar dari siksa yang menakutkan.

Abdullah ibn Abbas memandang ayat ini adalah tamparan bagi orang Yahudi yang menuhankan nabi Uzair A.S. Sekaligus cemooh tajam terhadap orang-orang nasrani yang menuhankan nabi Isa ibn Maryam A.S. Bagaimana mungkin, obyek yang mereka sembah, sosok yang mereka anggap Tuhan justru malah menyembah Allah SWT dan memohon rahmat kepada-Nya.

Di sini, nampak sekali perbedaan antara kawanan Jin tersembah, nabi Uzair A.S. dan nabi Isa ibn Maryam A.S. dalam urusan sembah menyembah. Nabi Uzair A.S. menyadari bahwa orang-orang Yahudi itu sesat karena menganggap dirinya sebagai anak laki-laki Tuhan atau sebagai Tuhan. Lalu diingatkan agar hanya menyembah Allah SWT saja, lain tidak.

Begitu pula nabi Isa ibn Maryam A.S. yang sudah berulang kali menegur kaum nasrani agar tidak menganggap dirinya sebagai anak laki-laki Tuhan atau sebagai Tuhan. Bahkan saking takutnya kepada Allah SWT, hingga berdialog tentang pembebasan dirinya dari kemusyrikan yang dilakukan kaum nasrani.

"Ya Tuhan, andai saya menyuruh mereka agar mereka menyembah saya, maka sudah pasti Engkau maha mengerti itu semua". (al-Maidah:116).

Tidak sama dengan kawanan Jin tersembah era jahiliah. Mereka menyadari kesesatannya, lalu bertobat dan menyembah Allah SWT secara diam-diam, tetapi tidak mau melarang para penyembahnya agar berhenti memujanya dan beralih menyembah Allah SWT seperti yang mereka lakukan.

Begitulah, mental seorang nabi sangat jujur dan terbuka. Tidak mau diam melihat kesesatan di hadapannya. Pasti memberi arahan ke jalan yang benar walau apapun resikonya. Uzair dan Isa bisa saja menikmati jabatan "Tuhan" itu dengan sekadar diam, apalagi sedikit ada bereksyen seperti Tuhan beneran. Sudah bisa dipastikan akan mengeruk materi berlimpah. Tetapi amanah risalah - bagi kedua nabi itu - jauh lebih agung daripada sekadar kepangkatan palsu.

Tidak sama dengan watak Jin tersembah tadi. Mereka masih hobi menikmati kepangkatannya sebagai Tuhan palsu, masih suka dipuja walau pemujaan itu berlawanan dengan akidah yang dipeluknya. Jin itu belum bisa melepas ego sektoralnya secara otomatis, sehingga mau shalih sendiri, sementara yang lain dibiarkan terjerumus.

Belajar dari sifat Jin tersembah ini, maka hati-hatilah terhadap orang yang anda kultuskan, yang anda puja, yang anda kagumi. Bisa jadi mereka sudah risih dan tidak butuh lagi terhadap pengkultusan anda. Mereka sudah meninggalkan dunia pamor dan menempuh jalannya sendiri.

Mereka sudah berganti kurikulum, sudah ganti sillabi, sudah asyik dengan munajahnya sendiri, enjoy ketika berlama-lama sujud, sangat serius menggapai ridla-Nya. Lain-lain tidak dibutuhkan. Tetapi anda masih berkutat pada fanatisme dan pengkultusan kepada mereka tanpa amal shalih yang meningkat.

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Jumat, 10 Juli 2020 21:04 WIB
Oleh: Ibnu Rusydi Sahara*“Sampean dari Surabaya?” Teman saya kerap menerima pertanyaan itu, manakala turun dari bus antarkota yang membawanya dari Surabaya di beberapa kota di Jawa Timur. Yang bertanya tukang ojek. Yang biasa mangkal di sep...
Senin, 13 Juli 2020 23:23 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 13 Juli 2020 22:40 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat...