Rabu, 17 Juli 2019 14:35

Harga Cabai Anjlok, Petani di Gresik Kelimpungan

Senin, 17 Juni 2019 19:31 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: M. Syuhud Almanfaluty
Harga Cabai Anjlok, Petani di Gresik Kelimpungan
Salah seorang petani di Gresik sedang memanen cabai. foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE

GRESIK, BANGSAONLINE.com - Harga cabai yang terus turun membuat petani di Kabupaten Gresik kelimpungan. Terlebih, ketika musim panen raya cabai seperti saat ini. Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat ini harga cabai rawit di tingkat petani hanya Rp 10.000 per kilogram. Bahkan, sebelumnya, cabai dibeli oleh tengkulak hanya Rp 7.000 per kilogram.

Anjloknya harga cabai ini dibenarkan oleh Adlan, salah satu petani di Desa Ketapanglor Kecamatan Ujungpangkah. Namun, ia mengatakan harga ini lebih baik daripada harga cabai tahun lalu saat panen raya.

"Kalau awal panen dulu harganya masih bagus sekitar 15 ribu, namun ketika banyak stok hanya dihargai 7 ribu. Saat ini lumayan cabai dihargai Rp 10 ribu per kilogram," tuturnya, Senin (17/6).

Menurut Adlan, kondisi ini menyulitkan petani, karena biaya perawatan tanaman cabai juga tak murah. "Kejadian ini siklus setiap kali panen raya. Harga selalu anjlok," keluhnya.

Hal serupa diungkapkan Muhammad Zafin, petani cabai lain. Ia membeberkan, pada panen kali ini petani cabai tidak mendapatkan untung. Apalagi baru-baru ini terdapat penyakit yang membuat cabai cepat membusuk.

"Jangankan untung, kembali modal aja tidak. Semoga pemerintah bisa memikirkan nasib petani cabai," harapnya.

Data di Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskop, UKM, dan Perindag) Gresik menyebutkan, harga cabai di pasar Gresik saat ini memang turun. Yakni, untuk cabai rawit dari Rp 16.429 per kilogram menjadi 15.571 per kilogram. Sedangkan cabai besar dari Rp 37 ribu menjadi Rp 34 ribu atau turun Rp 2 ribu.

"Memang harga cabai rata-rata turun, khusunya cabai rawit," ungkap Kepala Diskop UKM dan Perindag Agus Budiono.

Agus menyampaikan, anjloknya harga cabai disebabkan karena banyaknya stok, namun permintaan di pasar terbatas. Menurut ia, solusi yang bisa dilakukan saat ini adalah petani harus menjual cabainya sendiri langsung ke pasar, alias tanpa melalui tengkulak.

"Kalau harga di tingkat petani sudah tinggi, maka harga di pasar juga ikut naik," pungkasnya. (hud/rev)

Kamis, 11 Juli 2019 16:29 WIB
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Siapa pun pasti tersenyum membaca nama tempat wisata ini. Maklum, identik alat vital wanita: “Tempik Gundul” yang artinya alat vital wanita tanpa bulu. Apalagi tulisan yang beredar di media sosial (medsos) juga d...
Minggu, 14 Juli 2019 13:13 WIB
Oleh: Dr. KH. M. Cholil NafisBaru saja, Kamis (12/7) saya berpartisipasi dalam kegiatan Bussiness Matching The 1st Pasific Exposition yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru.Pacific Exposition merupakan salah satu kontri...
Sabtu, 06 Juli 2019 15:08 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraanOrang-orang yang mereka seru itu, ...
Sabtu, 29 Juni 2019 14:36 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...