Senin, 22 Juli 2019 05:26

Dengan Hanya Rp 3.000 Sudah Bisa Nikmati Nasi Punar Khas Pacitan

Kamis, 07 Februari 2019 12:08 WIB
Editor: Abdurrahman Ubaidah
Wartawan: Yuniardi Sutondo
Dengan Hanya Rp 3.000 Sudah Bisa Nikmati Nasi Punar Khas Pacitan
Nasi punar buatan Winarti. (foto: Yuniardi Sutondo/BO)

PACITAN, BANGSAONLINE.com - Di tengah himpitan krisis ekonomi global dan ketatnya persaingan usaha, mungkin sangatlah sulit mencari kuliner dengan harga cukup murah namun enak dan membuat perut kenyang.

Tetapi fenomena itu tidaklah berlaku di Pacitan. Mengapa begitu? Sebab selama ini ternyata tak sedikit masyarakat yang berusaha membuat makanan dan dijual seharga tak lebih dari Rp 3.000 per porsi.

Selain soto seger, lontong pecel, belakangan juga ada nasi punar berwarna kuning yang dijual seharga Rp 3.000 per bungkusnya. Itulah yang dijalani Winarti, warga lingkungan Selagi, Kelurahan Pacitan ini.

Sudah hampir enam tahun lebih, wanita paruh baya ini membuat nasi yang biasa disuguhkan untuk acara hajatan atau selamatan. Ia mengemasnya dalam bungkusan plastik mika dan dijual keliling ke warung-warung.

"Untuk sebungkus nasi punar ini saya jual ke warung seharga Rp 3.000. Karena warung juga mencari untung, mereka menjual ke konsumen seharga Rp 4.000 per bungkusnya," kata Bu Win, begitu ia karib disapa, Kamis (7/2).

Meski hanya seharga jajanan ringan, akan tetapi nasi punar besutan Bu Win terbilang enak dan bisa untuk mengganjal perut. Sebab selain ditaburi serondeng (parutan kelapa yang digoreng) juga ada kering tempe, irisan wortel, daun seledri serta bergedel kentang sebagai lauknya. "Sehari rata-rata saya bisa menjual sampai 300 bungkus lebih," tuturnya.

Dari hasil berjualan ratusan bungkus nasi punar itu, Bu Win mengaku bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 300- Rp 400 ribu per hari. Tentu usaha kecil-kecilan itu sangat membantu perekonomian keluarganya.

Selama enam tahun berusaha membuat nasi punar, ia tak pernah melibatkan pihak lain. Sebab Bu Win khawatir citra rasa akan berbeda kalau dipegang tangan berbeda. "Kami bekerja bersama keluarga yang jumlahnya sekitar lima orang. Ya suami, dan anak-anak yang membantu usaha ini," ceritanya.

Bu Win akan terus melanjutkan usaha membuat nasi punar. Sebab meski hanya sekadarnya, namun hasil dari usahanya itu bisa untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. "Usaha ini akan terus saya lanjutkan. Sebab keluarga saling mendukung," tukasnya. (yun/dur)

Kamis, 11 Juli 2019 16:29 WIB
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Siapa pun pasti tersenyum membaca nama tempat wisata ini. Maklum, identik alat vital wanita: “Tempik Gundul” yang artinya alat vital wanita tanpa bulu. Apalagi tulisan yang beredar di media sosial (medsos) juga d...
Minggu, 14 Juli 2019 13:13 WIB
Oleh: Dr. KH. M. Cholil NafisBaru saja, Kamis (12/7) saya berpartisipasi dalam kegiatan Bussiness Matching The 1st Pasific Exposition yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru.Pacific Exposition merupakan salah satu kontri...
Kamis, 18 Juli 2019 13:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraanOrang-orang yang mereka seru itu, ...
Sabtu, 29 Juni 2019 14:36 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...