Tafsir Al-Isra' 23: Shalat, Bakti Kepada Orang Tua, dan Jihad

Tafsir Al-Isra Ilustrasi.

Pada pemaparan tiga hal di atas, al-Hadis menggunakan kata sambung "tsumm" (kemudian, lalu, lantas) yang fungsinya sebagai urutan meski tidak langsung, ta'qib tarakhy. Hal demikian mengingat peran masing-masing doktrin, di mana keimanan kepada Allah SWT terdepan dan mutlak, lalu dibuktikan dengan tindakan nyata, yaitu shalat, ibadah khusus kepada-Nya.

Shalat merupakan bukti utama yang membedakan antara orang beriman sungguhan dan orang-orang yang pura-pura beriman alias munafik. Silakan dirasa-rasakan sendiri, apakah diri ini mukmin atau munafik, lihat saja bagaimana kita menyikapi shalat. Jika disiplin, apalagi rajin berjamaah, maka termasuk mukmin. JIka seseorang tidak shalat, walau mengaku muslim ya bersyahadat dan beramal baik, maka sejatinya dia munafik. Atau tidak disiplin atau malas, maka ada indikasi munafik.

Kedua, jihad di jalan Allah, seperti berperang dan segala bentuk mempertahankan agama ditegaskan sebagai nomor tiga mendampingi iman kepada-Nya dan berbakti kepada kedua orang tua. Hal itu adalah logis, karena semua amal ibadah termasuk dua hal tersebut tidak akan bisa diamalkan dengan baik kecuali negara ini dalam keadaan aman. Jihad adalah upaya menggapai keamanan sekaligus kenyamanan. Dalam islam, perang melawan penjahat adalah tindakan keterpaksaan yang mesti dikerjakan, setelah semua upaya damai tidak bisa dicapai.

Ketiga, versi lain, disinyalir, bahwa pertanyaan seperti tertera pada hadis, yaitu tentang amal yang paling disukai Tuhan tersebut ditanyakan oleh tiga orang yang berbeda, dalam waktu yang berbeda pula. Bunyi pertanyaannya sama dan jawabannya berbeda, lalu Nabi menjawab disesuaikan dengan kondisi si penanya. Ketika ditanyakan oleh penanya pertama, Rasulullah SAW dengan: "Shalat tepat waktu". Ya, karena si penanya malas shalat dan sering mengakhirkan.

Berbeda ketika ditanyakan oleh penanya kedua. Rasul menjawab dengan "berbakti kepada kedua orang tua". Ya, karena si penanya termasuk anak yang kurang berbakti dan cenderung berani kepada orang tua. Lain lagi ketika pertanyaan yang sama diajukan oleh orang ketiga dan langsung dijawab oleh Rasululah SWT dengan: "al-jihad fi sabilillah".

Ya, karena mental si penanya ciut dan pengecut, takut mati, sehingga dia enggan berperang. Kalau urusan shalat, berbakti, wiridan cukup bagus. Tapi kalau untuk jihad, berjuang, berderma, memberantas kemungkaran dan sebangsanya cenderung ogah-ogahan dan menghindar. Allah a'lam.       

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO