Rabu, 21 Agustus 2019 04:22

Tafsir Al-Isra' 20-22: Yang Terpilih, Bukan Berarti Diridai Tuhan

Sabtu, 26 Januari 2019 10:11 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Tafsir Al-Isra

Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag

Al-Isra': 20-22 

20. kullan numiddu haaulaa-i wahaaulaa-i min ‘athaa-i rabbika wamaa kaana ‘athaau rabbika mahtsuuraan

Kepada masing-masing (golongan), baik (golongan) ini (yang menginginkan dunia) maupun (golongan) itu (yang menginginkan akhirat), Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

21. unzhur kayfa fadhdhalnaa ba’dhahum ‘alaa ba’dhin walal-aakhiratu akbaru darajaatin wa-akbaru tafdhiilaan

Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Dan kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaan.

22. laa taj’al ma’a allaahi ilaahan aakhara fataq’uda madzmuuman makhdzuulaan

Janganlah engkau mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, nanti engkau menjadi tercela dan terhina.


TAFSIR

"kullan numiddu haaulaa-i". Ayat ini masih berhubungan dengan ayat sebelumnya, yakni kelompok manusia yang hidupnya hanya memproyeksikan duniawi (yurid al-'ajilah) dan kelompok yang juga memproyeksikan ukhrawi (arad al-akhirah). Jadi, arah ayat ini adalah, bahwa baik yang kafir maupun yang beriman pasti akan mendapat al-madad, pemberian Tuhan.

Begitulah Tuhan mengaplikasikan sifat rahmat-Nya kepada setiap makhluq, tanpa diskriminasi apapun. Perkara menjadi raja atau presiden bukan berarti Tuhan meridhai, melainkan sekadar merahmati. Fir'aun juga raja, Donald Trump juga presiden, itulah rahmat-Nya. Juga soal kaya raya, soal top papan atas dalam dunia entertainment, bukan berarti Allah meridhai, melainkan sekedar merahmati. Tak jauh beda dengan Tuhan merahmati singa yang merajai hutan atau komodo yang menguasi komunitas kadal.

Tapi ada tesis wahyu yang memuji kepemimpinan sebagai "al-murdli'ah", ibarat wanita menyusui. Tamsilan itu karena kiprah kepemimpinannya manfaati tur nyumrambah kepada masyarakat luas, seperti ibu yang memberi manfaat, menghidupi anaknya dengan air susu ibu. Pantes Nabi bersabda: "Ni'mat al-murdli'ah..".

Tetapi banyak orang yang beranggapan, bahwa terpilih itu tanda kasih sayang Tuhan dan yang tidak terpilih adalah tanda tidak diizinkan Tuhan, sekaligus tidak menyayangi. Itu pandangan salah. Yang benar adalah bahwa yang terpilih sedang diuji dengan amanat. Keputusannya, jika dia mengembannya secara bagus, maka itu mengantarnya ke surga. Jika tidak, malah kepemimimpinannya itu justeru menjerumuskannya ke neraka nanti.

Untuk itu, amanat kepemimpinan tidak diukur dengan aktifnya sang pemimpin shalat jama'ah, tidak juga dengan rajinnya berpuasa sunnah, tidak juga dengan seringnya mengadakan khataman al-Qur'an, melainkan dengan sejauh mana kebijakannya bermaslahah bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Bisa jadi ada pemimpin yang masuk surga, bukan karena shalatnya baik, tapi karena kebijakannya benar-benar maslahah, mensejahterakan dan membahagiakan umat kebanyakan. Bisa jadi sebaliknya, ibadah ritualnya bagus, tapi amanahnya rendah dan merugikan rakyat. Neraka tempatnya. Allah a'lam.

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Jumat, 09 Agustus 2019 19:52 WIB
KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Kediri memiliki destinasi wisata baru bernama Dewi Cemara. Obyek wisata berbasis pertanian dan peternakan di Desa Kedung Malang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur...
Minggu, 11 Agustus 2019 17:36 WIB
Oleh: Em Mas’ud AdnanPeta politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Kota Surabaya kembali berubah. Awalnya ada tiga kekuatan kubu politik di internal PDIP Kota Surabaya. Kubu Wihsnu Sakti Buana (wakil wali kota Surabaya), Bambang...
Senin, 19 Agustus 2019 01:09 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag58. wa-in min qaryatin illaa nahnu muhlikuuhaa qabla yawmi alqiyaamati aw mu’adzdzibuuhaa ‘adzaaban syadiidan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraanDan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduk...
Sabtu, 17 Agustus 2019 11:29 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...