Rumah Moch Samsul Huda yang terisolir. foto: ist.
Karena tak punya akses jalan, Samsul mengaku sempat terpaksa harus memarkir kendaraannya baik mobil maupun motor di timur jalan layang jalan tol Kebomas.
Ia mengaku sudah berkali-kali berupaya agar warga ABR mengizinkan dirinya bisa lewat di jalan mereka. Bahkan, sudah minta bantuan Sekretaris Desa (Sekdes) Kembangan. "Namun, hingga sekarang belum berbuah hasil," paparnya.
Saat ini, tambah Samsul, dirinya hanya bisa pasrah. Sebab, jalan setapak yang biasanya dipakainya untuk keluar masuk rumah juga akan diportal pemiliknya. "Sekarang depan rumah saya sudah mulai diportal. Kalau portal sudah sampai jalan setapak, akses keluar masuk saya pasti lumpuh. Saya dan keluarga tak bisa ke mana-mana karena tak ada akses jalan," terangnya. "Saya sudah pulangkan kendaraan saya seperti mobil ke Bojonegoro, " pungkasnya.
Sementara Ketua RT 01 RW 09 Perumahan ABR, Rian kepada BANGSAONLINE.com membenarkan, kalau warganya tak mengizinkan akses jalan digunakan untuk Samsul dan keluarganya.
Namun, kata Rian, keputusan itu bukan tanpa alasan. Warga menggangap, Samsul tak bisa berkomunikasi dengan baik seperti layaknya warga pada umumnya. "Sebagai ketua RT saya sudah berkali-kali merundingkan persoalan ini. Namun, warga saya tak mengizinkan pemberian akses jalan terhadap Pak Samsul dan keluarganya," katanya, Sabtu (19/1) malam.
Rian juga membenarkan, selain Samsul ada 9 KK lain yang bukan masuk warga ABR. Namun, 9 KK itu diizinkan warga ABR memakai akses jalan mereka. "9 KK itu diizinkan memakai akses ABR karena bisa diajak komunikasi dan mau ketika kami mintai kompensasi," terangnya. (hud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




